Challenge Yourself Every Single Day

Kamis, 25 Mei 2017

THE JOY OF FOOD : MENYATUKAN SURABAYA DAN MASYARAKAT DUNIA LEWAT LIDAH

Tahukah kamu? Umbria Food Festival merupakan festival makanan di salah satu kota di Italia yang masuk dalam UNESCO Intangible Cultural Heritage of Humanity. Italia memang dikenal sebagai salah satu negara yang paling menghargai warisan makanan di dunia. Bagi mereka makanan bukan hanya tentang makanan itu sendiri namun juga proses perayaan dan kebersamaan yang membawa mereka berkumpul tanpa memandang umur, kondisi dan kelas sosial. [1] Bagaimana dengan Surabaya? 



[Klik Play] Food Festival di Umbria Italy : Festival makanan tidak hanya bertujuan untuk menghidangkan makanan enak yang dimasak penduduk setempat, tapi selama acara berlangsung pengunjung akan melihat penampilan tari-tarian, musik, game dan keramahan warga lokal (foto : www. gounesco.com)

Sama halnya dengan Kota Umbria, Kota Surabaya juga memanfaatkan makanan sebagai simbol kebersamaan melalui festival. Salah satunya yaitu Festival Rujak Uleg yang diadakan dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-724 pada tanggal 14 Mei 2017. Aneka irisan buah, sayuran, petis udang dan tambahan cingur menjadikan Rujak Uleg makanan legendaris di Kota Surabaya. Makanan ini menjadi kuliner wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Surabaya selain Lontong Balap, Semanggi, Tahu Campur dan masih banyak lagi. Bahkan Pemerintah Kota Surabaya sudah mematenkan Rujak Uleg sebagai kuliner khas Kota Surabaya [2].Tahun ini Festival Rujak Uleg bisa dibilang paling meriah dengan jumlah peserta mencapai 1500 orang. Jumlah ini melebihi rekor MURI di HJKS ke-713 untuk 'Peserta Terbanyak Menguleg Rujak Uleg Oleh Masyarakat Surabaya Sebanyak 1106 Orang' [3] 


[Klik Play] Dari aneka ragam campuran bahan dan bumbu, terciptalah sepiring rujak uleg yang siap mengguncang dunia (foto : dokumentasi pribadi)

Peserta lomba dan penonton dengan antusias memadati Jalan Kembang Jepun sejak pukul 07.00 pagi. Selain melihat, penonton juga bisa ikut mencicipi rujak uleg karya peserta secara gratis. Ditampilkan juga Tarian Rujak Uleg yang dibawakan oleh para wanita yang membawa keranjang buah diatas kepala serta tangan memegang uleg dan layah. Untuk memeriahkan acara, semua peserta diharuskan berjoged mengikuti dentuman musik sembari tangan mereka meracik dan menguleg rujak uleg. Tak hanya sekedar festival makanan, festival rujak uleg juga menyuguhkan festival keberagaman budaya. Dimana 'Perang Kostum', mengasah kreativitas para peserta untuk merepresentasikan kelompok mereka. Uniknya, bukan hanya kostum Suroboyoan yang dipakai, beberapa peserta juga menampilkan kebudayaan kota lain seperti Madura, Bali, hingga kostum vampir dan superhero ala Hollywood. 

[Klik Play] Semua lapisan masyarakat Surabaya hadir disini, larut dalam kebersamaan dan berbagi kebahagiaan lewat makanan ( foto : Facebook/HumasPemkotSurabaya dan Dokumentasi Pribadi)


Pemilihan Jalan Kembang Jepun sebagai lokasi acara Festival Rujak Uleg bertujuan untuk menghidupkan kembali histori kawasan pecinan. Dulu wilayah ini merupakan pemukiman warga Tionghoa dan pusat perdagangan [4]. Sehingga selain menikmati Festival Rujak Uleg, pengunjung juga bisa berwisata sejarah tentang Kota Surabaya. Bahkan jika mau berjalan sedikit ke arah utara dan barat, sudah bisa ditemui Kampung Arab di kawasan Ampel dan Kampung Eropa dikawasan Jalan Rajawali. Sungguh Surabaya kaya akan kisah histori dan budaya yang menarik untuk dikunjungi bukan. 

Di Festival Rujak Uleg, selain warga lokal juga hadir warga asing yang nampak tidak canggung menguleg rujak dan ikut serta bergoyang bersama. "I liked the diversity of creations by the participants a lot and rujak uleg is a local delicious meal," kata Oscar, salah satu turis asal Belanda yang hadir dalam Festival Rujak Uleg. Menurut Oscar, Kota Surabaya memiliki potensi wisata seperti wisata belanja dan wisata sejarah karena banyak bangunan monumental di kota ini. Selain itu dia mengapreasiasi Walikota Kota Surabaya yang sudah membangun taman-taman kota dan pedestrian yang nyaman. Ada juga Ibnu, salah satu peserta yang masuk dalam 12 besar penyajian terbaik festival rujak uleg tahun ini."Walaupun laki-laki tapi rujak ulegan saya ndak kalah rasanya sama ibu-ibu," ujar pria perwakilan dari Dinas Perhubungan Kota Surabaya ini.

Oscar, Turis Asal Belanda Yang Ketagihan Rujak Uleg
Peserta Festival Rujak Uleg Yang Merupakan Mahasiswa Asing di Universitas Airlangga

Melalui kegiatan seperti inilah Kota Surabaya mampu menarik minat wisatawan baik domestik dan asing. Hingga November 2016, tercatat sekitar 564.000 wisatawan asing telah berkunjung ke Kota Pahlawan 
[5]. Angka ini diprediksi akan terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Dari kedatangan para wisatawan, maka perputaran ekonomi juga tergenjot. Siapa yang mengira, perputaran roda ekonomi dari Festival Rujak Uleg ini mencapai 14 Milliar Rupiah [6]. Belum lagi festival dan event lain yang digelar dalam rangka HJKS 724 tahun ini. Seperti Surabaya Shopping Festival yang menjadi magnet bagi penggila diskon untuk berburu potongan harga. Lalu wisatawan yang pulang membeli oleh oleh khas Kota Surabaya, ini turut menghidupkan UKM-UKM di Kota Surabaya.

Selain Festival Rujak Uleg, Pemerintah Kota Surabaya juga menyediakan festival makanan yang digelar selama 30 hari penuh yaitu Pasar Malam Tjap Toendjoengan. Kenapa diberi nama Tjap Toendjoengan? karena Pemkot Surabaya ingin mengembalikan kejayaan Jl. Tunjungan yang melegenda. Terdapat kurang lebih 100 stand makanan yang menjual makanan dan jajanan tempo dulu, sehingga pengunjung yang datang bisa puas mencoba aneka ragam kuliner disatu lokasi. Sembari makan, anda bisa belajar budaya dan bernostalgia melalui pertunjukan kesenian daerah yang ditampilkan setiap malamnya.
Pasar Malam Tjap Tunjungan (foto: facebook/HumasPemkotSurabaya)
Kesuksesan rangkaian acara HJKS tahun ini tak bisa lepas dari upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam menyiapkan dan mempromosikan potensi wisatanya. Didukung dengan Walikota Surabaya yang mengajak semua stakeholder (pemerintah, swasta dan masyarakat) untuk bersinergi dalam pembangunan pariwisata. Ini yang disebut sebagai Sustainable Tourism atau Pariwisata Berkelanjutan oleh World Tourism Organisation (WTO). Pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan masa depan [7]. Artinya, kegiatan pariwisata tidak mengesampingkan Sumber Daya Alam yang ada, menghargai sosial budaya masyarakat setempat, dan memberikan dampak ekonomis untuk semua stakeholder.  

Kini Kota Surabaya semakin dikenal dunia lewat kearifan lokal yang diada didalamnya. Ini terbukti dengan terpilihnya Kota Surabaya sebagai tuan rumah berbagai acara bertaraf internasional. Ini menjadi kesempatan emas bagi Kota Surabaya dalam memperkenalkan keunggulan yang dimiliki ke level yang lebih tinggi, khususnya di bidang pariwisata. 


Beragam cara menyatukan kita semua, dan makanan adalah salah satunya. Melalui Hari Jadi Kota Surabaya yang ke 724 diharapkan Festival Rujak Uleg, Pasar Malam Tjap Toendjoengan serta acara lainnya bisa semakin dikenal, bersanding dengan festival dunia lainnya. Mari jadikan momen ini sebagai sarana mempererat kebersamaan dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan. 

Selamat Ulang Tahun Kota Surabaya, Tetaplah Jaya !

#WeLoveSuroboyo #TravelEnjoyRespect #HJKS724 #BanggaSurabaya



******                                 
DAFTAR PUSTAKA

[1] Falovo Giulia. (2016). Umbria Food Festival. Available : http://www.gounesco.com/umbrias-food-festivals/
[2] Satria Andy. (2016). Pemkot Telah Patenkan Rujak Uleg. Available : http://radarsurabaya.jawapos.com/read/2016/05/30/1559/pemkot-telah-patenkan-rujak-uleg
[3] Subandi A, 2009, Rekor Rekor MURI, Jakarta, PT Elex Media Komputindo
[4] Kristinawati Filia dan Venly, 2012, Menghidupkan Kembali Kawasan Pecinan, Skripsi, Universitas Kristen Petra
[5] Noname. (2016). Daya Tarik Surabata Jadi Jujukan Wisatawan Mancanegara. Available : http://www.beritametro.news/epaper/surabaya/daya-tarik-surabaya-jadi-jujukan-wisatawan-mancanegara
[6] Munir. (2017). Festival Rujak Uleg Dongkrak Ekonomi. Available : http://www.jpnn.com/news/festival-rujak-uleg-dongkrak-ekonomi
[7] World Tourism Organisation. (2005). Making Tourism More Sustainable - A Guide for Policy Makers. Available : http://sdt.unwto.org/content/about-us-5

2 comments :

Ibnu Febry Kurniawan mengatakan...

bangga dadi wong suroboyo, bravo

Anonim mengatakan...

selamat ulang tahun surabaya :)

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas