Challenge Yourself Every Single Day

Sabtu, 23 Juli 2016

Prepcom III UNHABITAT Surabaya (Part 1)

THE THIRD SESSION OF THE PREPARATORY COMMITTEE FOR HABITAT III
Surabaya, 25-27 July 2016

Surabaya punya gawe gede bulan ini, dimana lebih dari 3000 orang dari seluruh dunia akan hadir dalam perhelatan Prepcomm III UNHabitat. Acara ini digelar pada tanggal 25-27 July di GrandCity Surabaya. Sebuah kehormatan bagi kami untuk bisa menjadi tuan rumah dalam event PBB. Surabaya dinilai sudah memenuhi kualifikasi sebagai Kota yang ramah dan nyaman untuk ditinggali sesuai standart yang ada. Beruntung saya turut terlibat kali ini sebagai Liaison Officee (LO) Field Visit.


APA ITU PREPCOM 3 ?

Majelis Umum PBB memutuskan untuk membentuk komite persiapan untuk melaksanakan persiapan untuk konferensi terbuka untuk semua Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Panitia Persiapan (PrepCom) akan memiliki tiga pertemuan (PrepCom 1, PrepCom 2, dan PrepCom 3) sebelum pembukaan konferensi.

  • PrepCom1 diadakan di New York, di Markas Besar PBB, 2014.
  • PrepCom2 diselenggarakan di Nairobi, Kenya, 2015.
  • PrepCom3 diselenggarakan di Surabaya, Indonesia, 2016.
Sesi ketiga Panitia Persiapan Konferensi PBB mengangkat tema tentang Perumahan dan Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan. 
Habitat III is the United Nations Conference on Housing and Sustainable Urban Development to take place in Quito, Ecuador, from 17 – 20 October 2016. In Resolution 66/207 and in line with the bi-decennial cycle (1976, 1996 and 2016), the United Nations General Assembly decided to convene the Habitat III Conference to reinvigorate the global commitment to sustainable urbanization, to focus on the implementation of a New Urban Agenda, building on the Habitat Agenda of Istanbul in 1996. Member States of the General Assembly, in Resolution 67/216 , decided that the objectives of the Conference are to secure renewed political commitment for sustainable urban development, assess accomplishments to date, address poverty and identify and address new and emerging challenges. The conference will result in a concise, focused, forward-looking and action-oriented outcome document.

Selama tiga hari Surabaya ditunjuk menjadi tuan rumah event ini. Surabaya dinilai bisa menjadi prototype contoh kota yang berkelanjutan baik dari segi lingkungan dan masyarakatnya. Tentu kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Surabaya, utamanya Bu Risma. Sejak awal tahun 2016 kami Pemerintah Kota Surabaya mulai mempersiapkan semuanya, mulai dengan mempercantik kota Surabaya hingga menyiapkan SDM. Selain tamu mancanegara, juga hadir sejumlah tamu domestik baik dari kementerian dan NGO. Bagi saya yang bukan anak HI cukup terkesima dengan acara seperti Sidang PBB ini. Dengan adanya ID Card saya bisa masuk dan mengeksplor setiap sudut yang ada di Grandcity. Di hari terakhir kemarin, saya sempatkan masuk di Main Room tempat sidang berlangsung. Disini setiap meja terdapat nametag nama-nama negara serta terdapat ruang/channel penerjemah disisi sampingnya. 



Channel 7 : Bahasa Indonesia
Bahasa utama tentu saja Bahasa Inggris dan Prancis, namun disini terdapat 7 channel yaitu English, France, Russian, Spanish, Chinese, Arabic dan Indonesia. Saya masuk ke ruangan ini saat jam istirahat, jadi tidak bisa melihat secara langsung proses sidangnya. Namun disinilah perumusan New Urban Agenda didiskusikan. Selain main event ini, di Prepcom3 juga terdapat side event lain yang membahas mengenai Urban Agenda yang bisa diikuti yaitu Exhibition, Side event dan Parallel event.

EXHIBITION : UNWRAP THE BEST PRACTICE  



Di lantai dasar Grand City Convex diadakan pameran yang bisa masyarakat ikuti secara gratis. Disini dipamerkan booth berbagai negara serta NGO yang merupan best practice contoh urban development. Salah satu booth yang saya kunjungi adalah Jepang yang memamerkan New National Spatial Strategy. National Plan yang dimiliki Jepang dengan target : 1. Menjadikan negara yang aman dan makmur /2. Negara yang memiliki kekuatan ekonomi /3. Negara yang bisa diperhitungkan di internasional. Salah satu penjaga booth asal jepang bercerita pd kami tentang anak muda jepang yang tinggal di suburb mulai pindah ke Tokyo karena cari kerja. Akibatnya desa-desa tinggal orang tua saja yang hidup. Nah pemerintah membuat program agar anak muda kembali ke desa dengan memberikan insentif bagi mereka. Lalu saya tanya 

"Apa pekerjaan mereka didesa? petani?"

"We have new concept : Half IT Programmer and Half Farmer, they can be Farmer in morning and IT programmer in the night." :)


SIDE EVENT : URBAN JOURNALISM ACADEMY

Corry Elyda, The Jakarta Post (Kerudung putih)
Cukup senang ternyata Prepcom membahas pula masalah Urban Jurnalistik. Saya buru-buru register untuk ikut Urban Journalism Academy ini. Memang bukan main disscussion, tapi menjadi side event dimana dalam diskusi ini dihadirkan sejumlah jurnalis media internasional (The Guardian) dan lokal (Jakarta Post). Disini didiskusikan bagaimana membuat tema Urban menjadi lebih sexy untuk diangkat ke masyarakat. Karena pada kenyatannya pembaca tidak begitu tertarik dengan tema Urban seperti Housing, Sanitation atau Water. Padahal hal tersebut sangat dekat dengan kehidupan kita. Solusi yang diambil oleh The Guardian adalah mereka memberikan hal lokal yang ada disekitar mereka. Dengan demikian pembaca akan lebih aware dengan apa yang ada disekitarnya. Pemberitaan juga tidak terbatas di tulisan namun bisa disiasati dengan membuat Video atau kumpulan photo. Tujuannya satu : To Make People Aware and Care.


*******

CONTINUE ON PART 2 : Prepcom III UNHABITAT Surabaya (2)

0 comments :

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas