Challenge Yourself Every Single Day

Rabu, 27 Januari 2016

Banyuwangi : Menenggok keindahan pariwisata kelas dunia

Pagi ini saya terhentak membaca berita bahwa Kabupaten Banyuwangi baru saja meraih penghargaan bergengsi berkelas internasional. Penghargaan itu adalah UNWTO atau United Nation World Tourism Organization yang dihelat di Madrid Spanyol. Bukannya meremehkan potensi Banyuwangi, namun kekagetan saya ini karena akhir tahun 2015 kemarin saya baru saja bertandang kesana.


Berawal dari rasa penasaran kami (baca : teman-teman kantor) dengan tempat tempat wisata di Kabupaten Banyuwangi maka kami memutuskan untuk berlibur kesana selama kurang lebih 3 hari. Kebetulan salah satu atasan saya kenal baik dengan pihak Disparta, jadi kami banyak dimudahkan untuk mengurus akomodasi. Rombongan naik bus kecil dan berangkat pada Jumat sore, waktu perjalanan sekitar 12 jam. Tiba di Banyuwangi pada pukul 04.00 subuh dan langsung menuju penginapan milik Pemerintah Kabupaten sejenis Hostel.

pict : www.traveltimestories.com
Hostel ini bernama Sritanjung dan terletak tepat didepan Taman Sritanjung dan dekat Masjid Agung. Untuk harga sekitar 75k - 200k perbed, bukan perkamar. Karena konsepnya Hostel maka satu kamar berisi 4-6 bed (ranjang susun) dan kamar mandi diluar. Bagi para backpack sangat cocok karena harganya sangat terjangkau, sekaligus jika beruntung bisa sekamar dan kenalan dengan para bule-bule. Berikut destinasi yang saya kunjungi selama disana :

1. Pantai Boom





Pantai Boom merupakan pantai yang baru direnovasi dan dibuka untuk umum (katanya). Tidak banyak yang bisa dilakukan disini karena lokasinya yang kecil dan agak sepi. Tapi ada satu sentra kuliner yang bisa jadi jujugan kami makan tahu khas Banyuwangi bernama Tahu Walik. Tahu ini mirip tahu bakso yang digoreng dengan balutan telur, dimakan bersama dengan sambal petis, Mantabss enak.

Tahu Walik dan sambal petis
2. Pantai Wedi Ireng

Usai sarapan di Pantai Boom, kami langsung menuju ke Pantai Wedi Ireng dengan waktu perjalanan kira-kira 2 jam. Untuk menuju ke Pantai ini kami harus melewati pedesaan yang jalan nya masih belum teraspal sempurna. Selain itu kami juga harus naik perahu selama kurang lebih 30 menit - 1 jam. Satu perahu berisi 10 orang dengan ombak yang cukup besar, jadi bersiap-siaplah dengan lifejacket anda.




Pertama kali singgah ke pantai ini, yang terlihat adalah hamparan pasir putih namun cukup sepi pengunjung. Mungkin karena jarak nya yang jauh sehingga harus naik perahu dulu untuk sampai kemari. Namun semua terbayarkan dengan pemandangan dan air pantai yang jernih. Tersedia juga satu warung yang menjual minuman dan makanan apabila lapar. Saya pun belum tahu kenapa disebut wadi ireng karena saya kira tanahnya akan berwarna hitam, tapi ternyata tidak. Saran saya kemari saat pagi karena pas siang sangat terik dan kurang oke untuk foto-foto.

3. Pulau Merah

Destinasi terakhir di penghujung hari ini yaitu Pulau Merah. Sebuah pulau yang katanya berwarna merah airnya. Terdapat satu batu besar yang menjadi pusat perhatian bagi para pengunjung untuk spot foto-foto. Karena sudah sore maka kami jadikan sebagai moment menikmati Sunset ditemani dengan sebuah degan ijo yang subhanallah nikmatnya :)




Usai menikmati sunset kami pun kembali ke penginapan, karena nanti malam masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi.

4. Kawah Ijen

Sebenarnya opsi wisata keempat ini lah yang paling membuat saya excited, karena sudah lama nggak naik gunung juga. Kami dengan 3 mobil jeap berangkat pukul 1 dini hari dengan perjalanan sekitar 2 jam. Karena hari masih gelap maka kami hanya tidur saja selama dijalan. Sesampaikan di lokasi hawa dingin langsung menusuk sehingga saya melengkapi diri dengan jaket hangat dan sarung tangan. Di tempat awal pendakian ternyata cukup ramai mirip dengan di Bromo. Semua pendaki berkumpul dan daftar untuk naik keatas. Kami mulai melangkah naik pada pukul 3 pagi, dengan asumsi sampai disana saat sunrise. Bersama dengan para rombongan kami mulai mendaki, yang ternyata trek nya lumayan curam keatas hampir 70 derajat. Sangat ngos-ngosan, apalagi angin sangat kencang sehingga menerbangkan debu-debu. Jadi saran saya masker harus selalu dipakai.



Rupanya stamina kami tak cukup kuat untuk berjalan cepat apalagi dengan medan yang sangat susah. Sehingga kami dengan kecewa harus melewatkan moment sunrise dan melihat blue fire. Saat sudah terang kami pun tiba dan mengucap syukur alhamdulilah. Kawah ijen luar biasa indah ditambah dengan bau belerang yang sangat khas. Lalu lalang para penambang belerang membuat kami kagum betapa badan mereka sangat terlatih naik turun gunung dengan membawa beban berat.




Karena angin dingin berhembus sangat kencang, saya tak kuat berlama-lama diatas sini. Alhamdulilah sudah diberi kesempatan melihat langsung keesaan Allah di bumi Banyuwangi ini. Usai turun kami pun menikmati segelas milo hangat serta Pop Mi karena belum sarapan.

****

So far, I Love Banyuwangi, benar-benar hidden paradise. Masih banyak obyek wisata yang belum saya kunjungi seperti Teluk Hijau dan Taman Nasional Baluran. Yang perlu dibenahi adalah akses jalan serta transportasi umum yang ramah turis, sehingga pelancong yang datang tanpa menggunakan jasa travel bisa jalan-jalan dengan mudah. Congratulation Banyuwangi, you deserve it !

2 comments :

lukmanul hakim mengatakan...

wow, ngehits rek mbak iki
:D

emane gak ke baluran tapi mbak hahaha

Paramadina mengatakan...

Agenda next trip, insya allah

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas