Challenge Yourself Every Single Day

Selasa, 25 Agustus 2015

A.S LAKSANA : Kejayaan orang-orang yang tidak membaca

Saya selalu menikmati tulisan-tulisan kolom yang ditulis oleh A.S Laksana di koran Jawa Pos. Tema yang diangkat boleh berat namun dapat disampaikan dengan lugas dan renyah. Pesan yang disampaikan bisa saya terima dengan baik, bahkan membuka perspektif baru untuk saya. Salah satu yang menarik adalah tulisannya yang dimuat di bulan Agustus ini dengan judul 'Kejayaan orang-orang yang tidak membaca'. Dalam tulisannya ia menyorot tentang budaya membaca bangsa kita yang sangat minim. Kemudian dilanjutkan dengan kisah Presiden Jokowi yang diwawancarai oleh The Straits Times yang videonya diupload di Youtube berdurasi satu menit. Sontak pak presiden dibully lantaran beliau tidak fasih bicara dalam bahasa inggris.

"....masalahnya, dia juga tidak terlalu bagus dalam bahasa indonesia. Bahkan dalam bahasa indonesia, Pak Presiden tetap memiliki kosakata yang sangat terbatas, tetapi setidaknya dia lebih fasih..."
"....kita tahu dia bukan ahli pidato dan dia tampaknya tidak menyukai pemikiran yang rumit-rumit. Pendekatannya pragmatis saja dan pesan dalam wawancara dengan wartawan Singapura itu sangat gamblang : Come and invest !. Itu juga pesan yang kurang lebih disampaikan dalam pidato pertamanya sebagai presiden di forum internasional..."
"...dengan kosakata terbatas dia tampak hanya bisa menyampaikan hal-hal itu saja dan dalam cara yang begitu-begitu saja..." 
"...dengan kosakata yang kaya, kau akan mampu menyampaikan pemikiran-pemikiran dalam cara yang cerdas..." 
Kemudian A.S Laksana mulai mengagumi penulis barat yang sering menciptakan tokoh-tokoh yang membaca buku dalam fiksinya. Sebut saja Hermione dalam serial Harry Potter dan Belle dalam Beauty and The Beast. Film-film karya mereka juga sering memunculkan tokoh yang sedang membaca buku. Namun berbanding terbalik dengan penulis kita yang jarang sekali menciptakan tokoh cerita yang suka membaca.
"....Jadi masyarakat dalam fiksi kita kurang lebih sama juga keadaannya dengan masyarakat yang kita kenal sehari hari : sama-sama tidak banyak yang suka membaca..." 
"... dalam pengalaman sehari-hari kita, orang yang tidak membaca bisa sukses juga sebagai apa saja. Dia bisa menjadi pengusaha berhasil, politikus, pegawai negeri. Dan dia juga bisa menjadi Presiden..." 

****

Saya jadi ingat saat saya SD, menjumpai perpustakaan menjadi hal yang sangat mewah bagi saya karena sekolah saya tidak ada perpus nya. Kebetulan didekat rumah saya ada penjual buku bekas dan saya rela menabung untuk membeli sebuah buku. Entah kenapa tapi rasanya membeli sebuah buku adalah sebuah kesenangan buat saya saat itu. Memang dalam keluarga tidak membudayakan membaca buku. Tapi saya selalu bersemangat untuk minta dibelikan Majalah Mentari setiap minggunya. Rasanya kegemaran membaca itu lahir sendiri dalam diri saya. Bahkan setiap ibu mau belanja ke Pasar Turi, saya selalu minta turun di Jalan Semarang untuk beli 1 atau 2 buku bekas. Dosen saya pernah bilang "Kamu adalah apa yang kamu baca", dan itu memang terbukti. Sebagai seorang kuli tinta saya menyadari bahwa semakin banyak buku yang dibaca maka akan semakin banyak menambah referensi menulis baik dari segi kosakata ataupun perspektif dalam melihat sebuah realita. Jadi saya mulai rajin membaca karya-karya para jurnalis senior atau penulis2 inspiratif seperti Renald Khasali dan A.S Laksana. Setidaknya saya bisa menelurkan tulisan-tulisan yang cerdas dan tidak biasa-biasa saja.


"...Hari ini kita hidup dalam masyarakat yang merayakan keberhasilan orang-orang yang kebanyakan tidak gemar atau tidak membaca buku sama sekali. Dan kondisi ini kurang bagus untuk mendorong orang-orang agar gemar membaca..."

1 comments :

lukmanul hakim mengatakan...

"A reader lives a thousand lives before he dies. A man who never read lives only one".
George R.R. Martin

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas