Challenge Yourself Every Single Day

Sabtu, 04 April 2015

Sepenggal Kisah Menjadi Santriwati (Bagian 1)

Menjalani kehidupan di pondok pesantren menjadi hal yang tidak pernah saya sesali seumur hidup
Selama enam tahun lama nya saya hidup mandiri di Pondok Pesantren dan jauh dari orang tua. Alasannya karena saat itu Bapak selalu rutin pindah-pindah tugas kantor dari satu kota ke kota yang lain dalam waktu yang relatif dekat. Coba bayangkan saat SD saya sudah pindah sekolah selama 3 kali di Gresik, Surabaya dan Tulungagung. Cukup susah bagi saya untuk beradaptasi saat itu utamanya jika harus ganti-ganti sekolah dan berpisah dengan teman-teman. Bahkan sampai sekarang saya tidak punya teman masa kecil layaknya teman-teman saya lainnya yang sampai mengadakan reuni SD. Oleh karena itu saya dan kedua kakak memutuskan untuk mondok.

Jombang memang terkenal dengan kota santri, saat itu kakak saya sudah terlebih dahulu mondok disana. Kemudian setahun berikutnya saya menyusul kakak saya untuk mondok di pondok yang sama. Namanya Al-Lathiffiyah II Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Banyak orang yang keliru menyebut Bahrul Ulum menjadi Darul Ulum, padahal kedua nya adalah tempat yang berbeda. Bahrul ulum sendiri merupakan sebuah yayasan yang didalamnya terdapat puluhan pondok pesantren putra dan putri. Untungnya saya tidak pusing pilih pondok karena sudah ada kakak, jadi saya tinggal ngikut saja.

Ini dia gerbang memasuki kawasan Bahrul Ulum Jombang
 (Picture taken from jombang.nu.or.id)
Pondok saya berada tak jauh dari gerbang utama ini, tepatnya pondok pertama dikiri jalan, jadi cukup mudah dijangkau. Kalau mau masuk kedalam lagi masih ada banyakkkkk sekali pondok dikiri kanan. Jadi cukup binggung bagi murid baru untuk memilih mau mondok dimana. Ada baiknya mencari referensi dulu ke alumi sebelum memutuskan pondok pesantren. Karena setiap pondok memiliki keunikan sendiri. Oia biasanya pemilihan pondok juga didasari oleh siapa kyai pengasuhnya. Di pondok saya sendiri diasuh oleh Wakil Bupati Jombang, Ibu Munjidah Wahab.

Tahun-tahun pertama di Pondok

Tepatnya tahun 2003 saya resmi jadi santri di PP. Al Lathifiyah II Jombang ini. Saya berada dikamar yang berbeda dengan kakak saya karena kamar untuk anak SMP dan SMA memang dibedakan. Untuk anak SMP berada di kamar yang diberi nama Az-Zakiyah. Di Az-Zakiyah terdapat lima kamar dan satu kamar dihuni oleh kurang lebih 10 orang. Saya berada di Az-Zakiyah 1 dan satu kamar dengan teman saya Heni, Titin, Mifta, Lailil dan yang lainnya lupa hehehe. Satu kamar tidak lah besar, mungkin hanya 4x4 meter. Didalam kamar berisi lemari kecil-kecil untuk tiap orang dan tidak tersedia ranjang (Untuk tidur kami membawa matras/kasur lipat). Saat waktunya tidur kasur baru boleh digelar di lantai. Jadi lantai kamar menjadi tempat yang multi fungsi : makan, belajar, setrika, dan tidur.

Home sick terjadi pada saya saat beberapa bulan pertama mondok. Saya mengalami sakit yang cukup serius saat itu. Sehingga harus bolak-balik pulang untuk berobat. Saat diantar balik ke pondok saya menangis dan minta untuk ikut pulang lagi. Begitu terus berulang-ulang. Lalu bu nyai bilang kalo orang mondok sudah sakit berarti ilmunya sudah masuk. Akhirnya saya betah-betahin sambil terus berfikir untuk 'boyongan' secepatnya. Yang menjadi kendala saat itu adalah harus mulai mengurus kebutuhan hidup sendiri mulai dari mencuci baju, setrika, makan sudah disediakan sih tapi kadang gak enak, mandi pun antri, sakit tidak ada yang rawat. Singkat cerita ditahun kedua saya bisa survive dan mulai enjoy belajar disini.

Rutinitas di Pondok

Setiap pondok punya karakteristik sendiri, ada yang sangat saklek ada juga yang mulai terbuka dengan dunia luar. Pondok saya termasuk ditengah-tengahnya. Misalnya ada pondok yang tidak membolehkan santrinya membawa hp, walkman, majalah, komik bahkan beli makan diluar juga tidak boleh. Sebagai gantinya di pondok disediakan TV (hanya boleh ditonton saat hari libur saja). Ya memang untuk itulah saya mondok. Semua fasilitas dibatasi supaya santri serius menuntut ilmu, istilahnya kudu kuat Tirakat. Oiya karena HP adalah barang terlarang maka dipondok juga disediakan wartel yang selalu antri saat sore (bukanya hanya sore saja) So epic ! Untuk bisa baca komik atau dengerin walkman saya harus main ke pondok teman saya yang memang boleh membawa barang-barang itu. Hahaha

Foto dikamar, diambil menggunakan Tustel.
Saat ini rata-rata mereka sudah menikah :D
Rutinitas pondok dimulai pukul 4 pagi yaitu diwajibkan sholat subuh berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan mengaji kitab kuning di lantai tiga pondok. Usai ngaji lalu mulai siap-siap berangkat ke sekolah. Perjuangan dimulai saat mandi pagi yaitu antri, kadang kami uda punya sistem sendiri dalam antri misalnya saat sebelum subuh sudah naruh handuk dipintu kamar mandi yang tandanya kamar mandi ini punya si A. Kalau sudah ada pioner yang dapat kamar mandi seperti itu mulailah muncul antrian-antrian, Aku habis A, trus B, trus C, trus D. Ada juga tipikal anak yang memang sangat rajin cari kamar mandi dipagi hari, jadi saya bilang kedia pokoknya aku antri mandi habis kamu ya seumur hidup. Hahaha

Trus berangkat sekolahhh tanpa sarapan karena memang tidak disediakan makan pagi. Jalan kaki dari pondok ke SMP cukup jauh kurang lebih 2 km. Itu harus melewati banyak pondok cowok juga jadi ada yang menjadikan kesempatan ini sebagai ajang tebar pesona. Soalnya baik pondok dan sekolah kami terpisah antara cewek dan cowok. Jadi interaksi antara laki dan perempuan sangat jarang sekali. Pulang sekolah jam 12 lalu istirahat sampai jam 1 siang. Jam 1-3 kami ada les bahasa inggris lalu sholat ashar dan mengaji quran. Malamnya diisi dengan sholat magrib dan mengaji diniyah sampai jam 10 malam lalu baru boleh tidurrrr. Ini dia detailnya (lumayan lupa-lupa juga sih)

04.00 : Bangun tidur, sholat Subuh
05.00 : Ngaji kitab
07.00 - 12.00 : Sekolah
13.00 - 15.00 : Les bahasa inggris
16.00 - 17.00 : Ngaji quran
18.00 - 21.00 : Ngaji Diniyah
21.00 - 22.00 : Belajar bersama

Second Al-lathifiyah English Course (SAEC)

Tidak banyak pondok yang memiliki program bilingual seperti di pondok saya. Disini semua anak kelas 1 (SMP dan SMA) wajib ikut les bahasa inggris yang diberinama SAEC ini. Pengajarnya bernama Mr. Muchid dan Miss Mia. Les nya masih didalam pondok dan menyenangkan sekali. Ini salah satu yang membuat saya betah disini karena belajarnya yang tidak hanya fokus pada agama saja. Saya ingat betul Miss Mia mengajari kami semua tentang Tenses dan Grammar yang kami lagukan setiap sebelum kelas dimulai. Kadang diselingi dengan menyanyi bersama lagu-lagu westlife, oh so memorable. Oiya setiap hari minggu kami berkumpul dilapangan dan mengadakan kelas conversation.

Speaking practice with tourist in Borobudur Tample
Farawell Party of SAEC with Mr. Muchid and Miss Mia
Diakhir pertemuan kami selalu mengadakan Study Tour ke Borobudur. Tujuannya untuk melatih speaking kami bersama dengan bule-bule yang ada disana. Kami membuat sebuah jaket angkatan SAEC berwarna pink saat itu. Lalu juga ada wisuda nya lhoo, saat itu saya berhasil menempati peringkat nomer 3 dikelas dan diundang maju kepanggung. Sampai sekarang saya masih menjalin hubungan baik dengan Mr. Muchid dan Miss Mia. Keduanya memang pasangan yang sangat romantisss, bahkan hingga sekarang. Saya pun sempat datang kerumah beliau makan rujak dan bermain dengan anaknya. Saat memasuki kelas 2 (SMP dan SMA) saya les bahasa Arab bersama dengan Ustad Lukman. Dari sini saya sedikit banyak bisa bahasa Arab, ini sangat membantu pelajaran bahasa arab disekolah.


****
Tunggu kisah selanjutnya di bagian ke 2 :)

0 comments :

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas