Challenge Yourself Every Single Day

Senin, 19 Januari 2015

Hakikat Berdoa pada Allah

"ya Allah tolong panjangkan rambut saya, dengan kecepatan, tolong ya Allah, komposisi rambut, jangan terlalu keras, nanti berdiri semua, jangan juga kekecilan, dan tolong ya Allah warnanya seragam.”
Seluruh fase dalam hidup saya membawa saya pada banyak fase up side down. Disana saya percaya akan pentingnya suatu proses, walaupun kadangkala orang lain hanya melihat hasil akhirnya saja. Sepanjang tahun 2014 hingga saat ini merupakan fase-fase perjuangan yang menguras hati dan pikiran. Saya punya prinsip bahwa 'Pantang bersenang-senang sebelum mimpi tercapai'. Yah, walaupun kadang kala menjalani prisip hidup saya sendiri saja masih susah dan banyak dilanggar. Akan tetapi jika flash back kebelakang sebenarnya saya sendirilah yang harus bertanggung jawab untuk menerima segala konsekuensi dari berbagai keputusan yang sudah saya ambil dulu.

Ada yang bilang jika berdoa itu harus spesifik mau A dan B, supaya Allah mengabulkan tepat seperti apa yang kita minta. Namun seiring berjalannya waktu saya mulai menyadari betapa saya mendikte Allah. Saya sudah pernah menuliskan tulisan tentang 'Berhenti mendikte Allah' sebelumnya, walau rupanya dalam prakteknya susah dilakukan.

Saat saya berada di tanah suci, ada salah satu anggota rombongan saya seorang Ibu. Usai sholat tepat didepan Ka'bah, ia lalu mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. Kertasnya bukan hanya satu namun kira-kira ada 5 lembar. Kebetulan saya duduk bersebelahan dengan ibu ini sehingga tulisan didalam kertas tersebut tak sengaja terbaca. Rupa-rupanya kertas tersebut adalah kertas berisi titipan doa dari sanak keluarga dan koleganya (tebak saya). Dalam satu kertas ada kira-kira 5 hingga 8 doa yang ibu ini baca satu persatu. Fenomena ini sama dengan yang saya alami saat ada teman saya yang umroh lalu saya titip doa (tapi tidak tertulis). Jadi saya fikir ini wajar.

Pun demikian dengan saya, saat perjalanan menuju tanah suci saya sudah punya stok permintaan doa untuk Allah. Namun saat disana saya tak kuasa mengucapkannya satu persatu. Rasa-rasanya ada perasaan 'sungkan' dengan Allah yang selama ini sudah memberikan jauhhh dari apa yang kita minta. Sehingga saat saya berdoa didepan Ka'bah saya sempat binggung, sesungguhnya saya sudah mendapatkan segala hal yang saya butuhkan Ya Allah. Saya mau minta apalagi?

Apalagi yang kau minta dari Allah?
Seperti yang disampaikan oleh Aagym berikut : 

Kalau kita meminta kepada Allah, jangan menganggap karena kita minta, Allah memberi, jika demikian berarti Allah diatur kita. Bagi kita, berdoa itu adalah ibadah, ikhtiar itu adalah amal sholeh, perkara Allah memberi itu terserah Allah saja.
Kita diperintahkan berdoa bukan untuk memberitahu Allah tentang keperluan kita, karena Allah maha tau, bahkan Yang Menciptakan kita punya keperluan juga Allah, jadi sebelum kita minta, Allah sudah tau keperluan kita, kenapa Allah tau keperluan kita? Karena dia yang menciptakan keperluan kita.
Kita tidak mengerti kenapa kita lapar, tapi lapar,kita perlu makanan. Allah yang menciptakan kita lapar, dan Allah  juga yang tau kalau kita tidak ada makanan, kita tidak bisa ibadah kepada-NYA. Allah menciptakan haus, Allah juga yang menyediakan air.
Kalau setiap permintaan selalu berbuah pemberian, bagaimana kalau kita tidak minta, pasti tidak ada pemberian.
Sekarang banyak mana? banyak mintanya? atau banyak pemberian Allahnya?kalau setiap pemberian harus lewat minta, bagaimana? repot kita, sedang kita tidak tau semua keperluan tubuh kita. Misal:“ya Allah tolong panjangkan rambut saya, dengan kecepatan, coba mau berapa kecepatannya, 1 cm/menit, tolong ya Allah, komposisi rambut, jangan terlalu keras, nanti berdiri semua, jangan juga kekecilan, dan tolong ya Allah warnanya seragam.”
Rumit…, itu baru rambut, belum kebutuhan semua anggota tubuh ini, rumit sekali tubuh ini, dan tidak minta, dicukupi, benar?
Yang terpenting dari doa bukan terkabulnya, yang terpenting dari doa adalah kita jadi hamba Allah, bener-bener merunduk, “saya itu tidak berdaya Allah yang maha kuasa, saya itu bodoh Allah yang maha tahu, saya itu miskin gak punya apa-apa, Allah yang punya segala-segala, saya itu kotor berlumur dosa, hanya Allah yang maha suci”.
Dikasih apapun bentuknya, mau cocokdengan yang kita minta, mau tidak cocok, tidak apa-apa, karena yang penting dari doa itu adalah berhasilnya kita mentauhiidkan Allah.
Dikabulkannya doa juga tidak harus cocok dengan yang kita inginkan, karena yang kita inginkan belum tentu yang terbaik menurut Allah, kitakan menginginkan sesuatu cendrung hawa nafsu.
Salah satu doa yang bagus itu seperti doanya Nabi Yunus, “laa ilaahailla anta subhanaka inni kuntu minandzoolimiin”.Itu doa ismul ‘adzom, jadi doa yang bagus itu adalah:
  1. Mentauhiidkan Allahlaailaaha illa anta; tiada illah selain Engkau,
  2. Mensucikan Allahsubhanaka; Maha suci Engkau. Intinya tidak ada yang kurang tidak ada yang salah tidak ada yang jelek, semua perbuatan Allah sempurna baiknya mau apapun yang terjadi subhanakatermasuk musibah yang menimpa kita pasti Allah itu baik, mau digimanainsaja tubuh ini, pasti perbuatan Allah itu baik.
  3. Pengakuan kehambaan diri kita. Subhanaka inni kuntu mindzdzoolimiin; sedang saya inilah ya Allah orang yang dzolim, nah itu doa, laa haulaa walaa quwwata illabillah, tiada daya tiada kekuatan kecuali dari Allah yang maha agung, (Dikutip dari http://www.smstauhiid.com/hakikat-doa-kepada-allah/)
Jadi yang penting dari doa itu sendiri adalah bukan fokus dikabulkannya, tapi fokus mentauhidkan Allah, mensucikan Allah dan pengakuan kehambaan diri kita pada nya. 

0 comments :

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas