Challenge Yourself Every Single Day

Minggu, 07 Desember 2014

Koran Surya: Ihwal Suara Hawa

Indonesia belum memberikan porsi yang seimbang terhadap partisipasi perempuan di ranah publik. Ini bisa dilihat dari pemberitaan di berbagai media di Indonesia baik cetak maupun elektronik.
Inilah yang coba dicermati oleh Hesti Arni Wulan pagi itu (18/10) dalam Kuliah Tamu Isu Isu Gender dan HAM. Bertempat di ruang Adi Sukadana Fisip Unair, Hesti memberikan penjelasan mengenai isu gender perempuan di Indonesia kepada mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Isu Isu Gender dan HAM. “Saat ini partisipasi perempuan di ranah publik harus diperjuangkan,” jelas Hesti.
Menurut Hesti dari sisi kelembagaan Indonesia sudah hebat sekali. Dalam perkembangannya kini Indonesia memiliki kelembagaan tersendiri untuk menangani masalah perempuan di Indonesia yaitu Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak. “Sekarang, tugas Komnas berat sekali karena harus mengimplementasikan dari HAM,” tandasnya.
Lebih lanjut Hesti memaparkan isu isu gender yang sudah terjadi Indonesia saat ini salah satunya yaitu adanya ketidakberpihakan media terhadap perempuan. “Apa suara perempuan di parlemen? yang ada laki laki semua,” tegas Hesti. Selain itu posisi strategis penentu kebijakan belum juga banyak melibatkan perempuan.
Hesti memberikan studi kasus mengenai permasalahan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang tak kunjung usai. Hal tersebut dapat merepresentasikan aksesibilitas yang rendah terhadap pendidikan serta buruknya akses memperoleh keadilan.
“Sepanjang pendidikan belum berubah, perempuan akan terus berada dalam peran peran domestik, karena faktanya masyarakat di Indonesia masih banyak yang uneducated,”tambahnya.
 Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang masih cukup tinggi di Indonesia juga menjadi sorotan dalam kuliah tamu ini. “Yang harus dihentikan adalah pendidikan kekerasan dalam keluarga, itu harus diputus mata rantainya,”tambah Hesti.

Memang secara historis posisi perempuan terkontruksikan sebagai tidak berdaya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan demikian, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal ini adalah budaya, hukum dan agama. Sedangkan faktor internalnya meliputi kodrat dan nasib. “Itu semua harus segera dilakukan perubahan !,” tutup Hesti.

*** Tulisan ini dimuat di koran Surya edisi 20 Desember 2011

0 comments :

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas