Challenge Yourself Every Single Day

Kamis, 20 November 2014

Waspada Narkolema (Narkoba Lewat Mata) !

Berita kekerasan seksual pada anak seakan menjadi suguhan rutin di televisi kita. Maraknya kasus pelecehan seksual bahkan yang dilakukan oleh anak dibawah umur sungguh memprihatinkan. Kondisi ini diperparah dengan ditangkapnya pelaku yang tidak jarang adalah orang terdekat korban. Oleh sebab itu orang tua harus dibekali dengan pengetahuan mengenai kekerasan seksual agar bisa mendidik dan melindungi buah hati. Hal ini pula yang melatarbelakangi Dharmawanita Kota Surabaya mengadakan seminar “Stop Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, Menjawab Tantangan Mendidik Anak di Era Digital & Menghindarkan Anak dari Kekerasan Seksual”.



“Kekerasan pada anak sudah dalam level darurat, tidak hanya terjadi didaerah lain tapi di Surabaya juga ada, sebuah bencana akan semakin besar jika kita tidak tahu kalo bencana itu ada,” kata Chusnur Ismiati, Ketua Dharmawanita Pusat Kota Surabaya. Hal ini tentu harus disikapi sebagai ancaman yang sangat serius. Ia menganalogikan kasus kekerasan seksual pada anak seperti sebuah kebakaran. Masalah kebakaran tidak lantas selesai setelah api padam. Pasca kebakaran rumah hangus dan tidak ada tempat untuk pulang. Mau membangun rumah lagi tidak bisa langsung, karena puing puing kebakaran harus dibersihkan dulu. Jika mau membangun rumah juga butuh waktu, kalau musim kemarau akan cepat berdiri namun jika musim hujan butuh waktu lama. 

“Persoalan pornografi bukan hanya sekedar memadamkan sebuah api dalam kebakaran, maka harus dicegah dengan kewaspadaan, masalah tidak akan selesai dengan hanya kekeluargaan, karena korban bisa jadi pelaku, anak-anak akan tumbuh dewasa, belum tentu setelah proses itu dia jera bisa jadi malah melebar jadi pelaku,” tambahnya. Dalam seminar yang diadakan pada tanggal 13 November 2014 ini diikuti oleh Ikatan Guru TK Indonesia (IGTKI),  Gabungan Organisasi Penyelenggara TK, dan Kader Puskesmas. Elly Risma sebagai pembicara dari Yayasan Kita dan Buah Hati memberikan penjelasan disertai dengan kasus-kasus yang sudah terjadi. Dalam presentasinya Elly menjelaskan bahwa ada tiga jenis kejahatan seksual, yaitu melalui kata-kata, perilaku seksual tanpa persetujuan dan pemaksaan untuk melakukan kegiatan seksual. Ia mengajak para peserta membayangkan bahwa kasus ini bukan hanya terjadi jauh disana, tapi siapa tahu korban nya adalah anak-anak kita sendiri.

“Saya mengapresiasi keputusan bu Risma yang menutup Dolly, beliau punya semangat kenabian,” kata Elly. Elly bercerita bahwa bu Risma mengatakan pelanggan psk di dolly yang sudah berumur 60 tahun ternyata adalah anak SD dan SMP, tentu hal tersebut sangat miris. Apakah penyebab semua itu? Mungkin karena orang tua kurang memberikan bekal yang cukup pada anak. Perhatian dan kasih sayang sangat dibutuhkan anak dalam jumlah yang cukup sehingga membuat anak merasa berharga. Hal yang harus diajarkan juga pada anak adalah berfikir kritis yaitu berfikir, memilih dan mengambil keputusan.

Teknologi juga berperan besar dalam kasus kekerasan seksual pada anak. Fakta yang disampaikan Elly, menurut survei yang dilakukan pada anak SD kelas 4, 5 dan 6 sebanyak 95% mereka sudah melihat konten pornografi dari kelas 4 SD. Data tahun 2013 mengungkapkan bahwa paling banyak 18%  dilihat dari situs internet sedangkan tahun 2014 sebanyak 51% melihatnya di rumah sendiri. Inilah yang disebut dengan bencana yang paling besar karena kita tidak sadar bencana itu ada. “Sebenarnya apa yang diinginkan oleh para penjual pornografi? Satu mereka ingin anak punya perpustakaan pornografi di otaknya, kedua rusaknya otak secara permanen dan ketiga mereka menjadi pelanggan pornografi seumur hidup,” ungkap Elly.

Proses kecanduan pornografi dimulai dari pelepasan dopamin dalam otak, lalu kecanduan ingin melihat lagi dan lagi, tidak peka dan tidak terangsang lagi, lalu akhirnya melakukan. “Ini yang disebut Narkolema, Narkoba lewat mata, menyebabkan otak manusia tidak bisa berfikir sehat sehingga memiliki sifat binatang,” ungkap Elly. Lalu bagaimana jika anak kita sudah menjadi korban? Kita harus berani melapor ke Polisi dan korban harus diterapi oleh ahlinya. Bahkan disetiap puskesmas di Surabaya sudah ada P2TP2A yaitu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Tak lupa Elly berpesan pada para orang tua agar tidak terlalu sibuk diluar rumah dan melibatkan ayah dalam mendidik anak.

Surabaya,  14 November 2014



0 comments :

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas