Challenge Yourself Every Single Day

Selasa, 02 September 2014

Weekend Gateway : Lombok !


Lama tak traveling, kali ini saya sekeluarga menyempatkan diri berlibur ke Provinsi NTB tepatnya di kota Mataram. Di pulau Lombok ini memang akhir akhir ini menjadi destinasi wisata baru setelah Bali. Keindahan alam laut serta gunung Rinjani menjadi magnet bagi para wisatawan. Pulau lombok tepat berada di sebelah barat dari Bali. Kali ini kami liburan menggunakan travel untuk memudahkan urusan akomodasi selama disana. Alhamdulilah, itung itung liburan ala koper dari pada biasanya yang mbolang :))

Surabaya Lombok kami tempuh selama 50 menit dengan perbedaan waktu 1 jam. Kami sampai disana jam 11 pagi dan dilanjutkan perjalanan ke Suku Sasak Sade. Disini saya dipandu oleh guide penduduk setempat yang menjelaskan sejarah adanya suku sasak ini. Disini semua rumah terbuat dari kayu dan memiliki atap dari daun-daun kering. Nyaris tanpa batu bata dan semen sama sekali. Bahkan tanahnya terbuat dari remahan kayu yang dicampur dengan kotoran sapi. Sehingga mirip dengan tanah liat namun berwarna kuning.

Yang unik dari suku sasak adalah tradisi pernikahan mereka. Istilah kawin lari benar benar terjadi disini. Cara tersebut dianggap lebih terhormat dibandingkan meminta langsung ke orang tua sang perempuan. Menikah dengan sepupu juga menjadi hal lumrah disini. Karena jika menikah dengan yang tidak sesodara maka nilai mahar nya akan sangat mahal yaitu dua ekor kerbau. Sedangkan sesama sodara hanya dengan seperangkat alat solat sudah cukup.

Perjalanan kedua dilanjutkan ke Pantai Tanjung Aan. Pantai ini terkenal dengan pantai merica karena pasir nya bulat bulat mirip merica dan bukan pasir bubuk seperti lumrah kita temui. Begitu sampai disana maka kaki kita akan terasa diberi relaksasi karena tekstur pasirnya yang bulat bulat. Bermain dipantai ini juga tidak usah takut kotor karena pasirnya mudah dibersihkan. Memang di Lombok ini banyak wisata pantainya, jadi yang suka pantai memang cocok sekali kesini. Salah satu yang tidak boleh dilewatkan adalah Pulau Gili Terawang

Sebenarnya ada tiga gili disini, namun turis lebih banyak mengunjungi Gili Terawangan karena sudah ramai dan memiliki akomodasi yang lengkap. Untuk sampai di Gili Terawangan saya harus naik perahu untuk menyebrang selama kurang lebih 30 menit. Biasanya ada kapal besar yang menyebrang beberapa jam sekali dengan kapasitas orang banyak. Namun kami beruntung karena dari travel sudah menyiapkan jet-boat pribadi. Jadi kami bertujuh bisa langsung berangkat dengan kecepatan super. Hahaha

Disini main attraction nya adalah Snorkling. Dengan uang 75.000 kita bisa sewa alat snorkling lengkap mulai dari kacamata, vest hingga sepatunya. Ini adalah pengalaman pertama saya snorkling dan ternyata mengasikkan sekali. Saya bisa berenang bersama dengan ikan ikan yang berwarna warni. Ketagihan pokoknya ! Seharian kami bermain di pantai dan menikmati pemandangan. Saya berasa di negera lain karena 75% turisnya adalah turis mancanegara. Jarang sekali terlihat turis domestik kecuali penduduk lokal setempat. Lalu lalang bikini sudah menjadi hal lumrah disini. Perjalanan esok harinya kami mengunjungi sebuah Pura dan Taman Narmada. Taman Narmada sejenis Taman Sari nya Jogja tapi punya area yang lebih luas. Ada pemandian selir selir raja dan juga sebuah pura. Selanjutnya kami beli oleh oleh dan pulang ke Surabaya. Yeay :)

Yuk beli produk masyarakat lokal 

Yang menjadi pemandangan mencolok adalah banyaknya penjual gelang dan kain. Lombok memang dikenal sebagai penghasil mutiara sehingga disetiap tempat wisata pasti banyak orang menjajakan gelang. Selain itu disini dikenal pula sebagai penghasil kain tenun. Selembar nya dijual sekitar 50-500 ribu rupiah. Sebagai kota yang baru saja menjadi tujuan wisata besar, menurut saya Lombok belum 100% siap. Ini bisa dilihat dari kondisi jalan menuju beberapa tempat wisata yang belum mulus. Di pantai Tanjung Aan misalnya, bahkan pintu masuk gerbang tidak ada. Kondisi sekitar juga sangat kotor karena dipenuhi dengan sampah plastik. Pun demikian dengan kesejahteraan masyarakat disekitar tempat wisata, seharusnya mereka bisa hidup layak dengan makin bertambahnya wisatawan yang datang. Namun ini berbanding terbalik,

Kain yang dijual diletakkan diatas kepala
Belum ada stand untuk berjualan
Pemerintah setempat belum menyediakan stand stand yang bisa digunakan untuk masyarakat. Akibatnya, para ibu bapak yang berjualan baju atau kain masih harus menenteng kain mereka kemana mana (saya yakin berat). Dalam sehari saja ada banyak bus besar wisatawan yang mampir kemari namun itu tak lantas membuat dagangan mereka laku. "Ini ada lima bus yang datang tapi  nggak ada yang beli kain sama sekali." ucap salah satu ibu yang berjualan. Saya concern dengan hal ini karena saya juga pernah melakukan penelitian di Pantai Slopeng Madura yang bagus namun tidak ada perhatian pemerintah. Padahal masyarakat bisa dapat rupiah dari sana jika dikelola dengan baik. Semoga pemerintah NTB segera berbenah, karena saya yakin dalam beberapa tahun mendatang Lombok akan seramai Bali.

Beli gelang nya si adek 
Mulai sekarang, coba beli produk penduduk setempat walaupun sebenarnya kita nggak ingin-ingin amat. Karena satu atau dua barang yang kita beli bisa memutar roda perekonomian mereka. Dari pada beli dipusat oleh oleh yang besar (ditengah kota) coba beli di penjual keliling yang biasanya berkeliaran disekitar tempat wisata. Karena toko besar sudah pasti mendapat pemasukan, sedangkan mereka yang menjajakan dilapangan biasanya jarang laku. Sudah saatnya Indonesia sejahtera lewat sektor pariwisata !

3 comments :

lukmanul hakim mengatakan...

wew, gak sekalian ke rinjani mbak din hahaha :D

Paramadina mengatakan...

@Lukman : Enggak man, wisata pantai aja ini pengennya

lukmanul hakim mengatakan...

waah dulu katanya gak tertarik sama wisata pantai hahaha
ah ngiri ngiri :p

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas