Challenge Yourself Every Single Day

Minggu, 16 Maret 2014

Budaya Membaca di Indonesia

Dalam bus, perjalanan ke Malang...

Pagi ini suasana bus tidak begitu sesak namun hiruk pikuk terminal membuat saya bersemangat untuk menyambut hari ini. Saya memilih bus ekonomi dengan selisih harga 12.000 lebih murah dari bus patas AC menuju Malang. Begitu lama tidak ke Malang, saya disambut dengan sapaan Gunung Arjuno nan cantik tertutup kabut sepanjang perjalanan. Satu persatu pengamen keluar masuk bus, meminta sejumlah recehan ataupun rokok dari para penumpang. Begitu suasana bus mulai sepi, pak Supir menyalakan radio di channel SuaraSurabaya (SS).

Saya termasuk pendengar setia radio paling oke seantero Surabaya ini, karena diwaktu senggang ibuk selalu memilih media radio sebagai sumber informasi. Dan kali ini SS sedang menyiarkan program talk show mengenai Perkembangan Perekonomian saat ini. Tetiba telinga saya jadi sangsi, entahlah seolah olah salah tempat mendengarkan SS di dalam bus seperti ini. Karena sebelumnya telinga saya hanya menangkap bunyi lagu lagu dangdut dari para pengamen.
Apa para penumpang faham apa yang dibicarakan di radio SS ini?
Bukannya saya under estimate dengan penumpang bus, namun menciptakan atmosfer pendidikan (misalnya membicarakan tentang ekonomi) adalah hal yang susah di Indonesia. Hal nyata yang kasat mata adalah sedikit sekali masyarakat kita yang menghabiskan waktu menunggu dengan membaca. Misalnya saat menunggu pesawat, atau saat berada didalam bus. Karena saya percaya bahwa tingkat kepintaran dan kecerdasan seseorang ditentukan dari apa yang dilihat, dibaca dan didengar.
Sewaktu saya di Paris, banyak orang lokal yang menghabiskan waktu di dalam kereta dengan membaca buku, bahkan nenek nenek
Budaya tersebut memang tidak dibangun dalam semalam, namun sejak kecil sudah dibiasakan oleh orang tuanya dan juga suasana lingkungan sekitar yang mendukung. Mereka seperti haus akan informasi dan menghilangkan dahaga tersebut dengan membaca buku. Apalagi menurut cerita dari dosen saya yang pernah kuliah di Inggris, harga buku diluar negeri termasuk murah (dengan ukuran penghasilan penduduk setempat). Sehingga mungkin mereka menjadikan buku sebagai kebutuhan primer.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Saya merasa sangat beruntung, karena sejak SD saya sudah menyukai majalah Mentari. Majalah ini menjadi titik balik hobi saya membaca dan menulis hingga saat ini. Asal anda tahu, keluarga saya bukan keluarga akademisi, sekolah hanya menggugurkan kewajiban saja. Sehingga membeli buku (saat SD) adalah hal mewah bagi saya dengan tingkat ekonomi keluarga saya saat itu. Perpustakaan di SD saya sangat memprihatinkan, seperti gudang, bukunya berdebu dan hampir di makan rayap. Bayangkan, bagaimana slogan "Membaca adalah jendela dunia" bisa direalisasikan ke tunas tunas bangsa.

Di Indonesia menurut pengamatan saya budayanya adalah melihat. Kita lebih tertarik pada gambar berjalan dari pada membaca. Misalnya, orang lebih suka nonton film Ayat Ayat Cinta dari pada baca novelnya yang tebal. Padahal sebenarnya jika perpustakaan di sekolah sekolah dibuat lebih attractive maka otomatis akan menumbuhkan minat baca pada pengunjungnya. Salah satunya adalah Perpustakaan Kota Surabaya

Perpustakaan Kota Surabaya di Balai Pemuda
Ada Kids Corner lengkap dengan komputernya :)
Saya sangat senang atas dibangunnya perpustakaan ini. Selain koleksi buku yang sangat memadai, fasilitas internet juga disediakan secara gratis disini. Namun sayangnya kenyamanan ini terganggu oleh pengunjung itu sendiri yang tidak bisa menjaga ketenangan didalam perpus. Saya sangat menyayangkan hal ini karena mereka menjadikan tempat ini sebagai tempat ngobrol. Padahal jika saya bandingkan dengan perpustakaan di luar negeri, berisik sedikit saja sudah dimarahi, bahkan jika ingin menerima telepon kita harus keluar dari perpus agar tidak menganggu pengunjung yang lain. Namun diluar itu semua alangkah baiknya jika kita mulai membiasakan diri mengunjungi tempat tempat seperti ini, supaya ketularan hobi baca dan pintar :)
Jika nanti saya punya anak, maka buku adalah hal pertama yang harus ia kenal sebelum komputer.  
Tak sempat baca? maka dibacakan

Beberapa hari yang lalu saya melihat tayangan di TVOne disuatu negara katakanlah X (lupa namanya),

Ribuan Buruh Rokok (Tribunnews.com)
Sang reporter bercerita tentang kehidupan buruh cerutu (semacam rokok) di negara X tersebut. Tak jauh berbeda dengan buruh rokok di Indonesia, mereka ditempatkan disuatu tempat yang luas dengan jumlah ribuan pekerja. Mereka mampu menghasilkan puluhan cerutu dalam sehari (per orang). Namun bedanya adalah pemerintah di negara x ini mewajibkan para buruh untuk mendengarkan berita/ informasi terkini di koran. Nah, bagaimana caranya?

Jadi ada seorang yang ditugaskan secara khusus untuk membacakan headline koran setiap hari lewat speaker. Koran tersebut dibacakan pada pagi hari, saat siang sang petugas mulai membacakan novel selama beberapa halaman. Rutinitas tersebut dilakukan setiap hari sembari para pekerja melinting cerutu sekaligus dapat mendengarkan berita terbaru lewat speaker. Pemerintah melakukan hal ini agar para buruh tidak ketinggalan informasi karena harus bekerja seharian. Mereka bilang ini adalah budaya sejak jaman penjajahan mereka. (Penjajah yang keren adalah yang mencerdaskan negara jajahannya, bukan sebalikanya !!! )

Sayangnya hal ini tidak terjadi di Indonesia (setahu saya). Miris sekali, kasarannya posisi buruh adalah pegawai kasaran dan biasanya tidak berpendidikan tinggi. Mereka dibayar dengan upah sangat kecil namun dengan jam kerja yang padat, tapi tak ada upaya mencerdaskan mereka. Saya rasa ide kecil atau mungkin sepele dari negara x sangat briliant dan patut di contoh.

Catatan menarik lainnya !

 
Silahkan mampir ke situs berikut yang tak kalah menarik membahas budaya membaca diberbagai negara. Bahkan ada vending mechine untuk buku lho di terminal Jepang


Untuk semakin memuaskan dahaga mereka akan membaca, didalam kereta di New York disediakan e-book yang bisa diakses lewat gadget anda. Kerennn :)

In New York, they’ve worked out another solution where they even partnered with the library! The  New York Public Library’s “Underground Library” concept would offer a virtual library of sorts right on the train using near-field communication. When you see a NY Public Library poster in your train car, you just swipe your smartphone against it and you’d get free instant access to a sample of a current bestseller to read right there on the subway. So, the first ten pages would be free, and then you’d be directed to a local library branch to continue reading a hard copy of the book.
Source

0 comments :

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas