Challenge Yourself Every Single Day

Selasa, 25 Februari 2014

Malangnya Menjadi Orang Indonesia

Berapa kurs dollar ke rupiah hari ini?

google images
 Tetiba urusan kurs mata uang ini menjadi sangat penting dalam hidup saya karena dalam waktu dekat saya harus membayar biaya tes bahasa inggris dalam jumlah dollar yaitu $195. Alhasil setiap hari saya selalu mendengarkan radio bisnis untuk mengetahui perkembangan kurs perjam nya. Saat itu akhirnya saya membayar dengan kurs 12.300 (sekitar awal Februari) namun alhamdulilah beberapa hari terakhir ini sudah turun signifikan hingga level 11.700. Sungguh mencengangkan, bagaimana bisa kurs Indonesia ke dollar yang 6 bulan lalu masih ada di angka 9000an sekarang bisa naik drastis. 

Saat Rupiah tak ada harganya

Well, kunjungan saya ke Eropa kemarin benar benar membuka wawasan saya tentang perekonomian dunia. Ya walaupun saya tidak begitu faham dengan perekonomian dan perputaran uang di dunia ini, namun pengalaman menggunakan Euro membuat saya tertampar. Bagaimana tidak, 1 euro adalah 12000 (Juni 2013) dan di Jerman 1 euro adalah biaya sekali masuk ke toilet. Semua yang ingin saya beli selalu saya itung dalam rupiah, jadi semua nya tampak mahal. Oleh karena itu teman saya selalu menyarankan agar jangan mengubah semua harga ke rupiah selama di Eropa supaya nggak strees. Haha

Toilet Umum Rp. 12.000 sekali masuk (doc pribadi)
Ya begitulah, sebenarnya tidak ada yang mahal di Jerman jika saya adalah orang Jerman yang berarti berpenghasilan rata rata saya adalah sekitar 2500 euro perbulan. Karena semua harga kebutuhan pokok di sini pasti disesuaikan dengan pendapatan rata rata penduduk setempat atau istilahnya UMR. Namun sayangnya saya berasal dari negara berkembang INDONESIA yang 1 euro nya adalah 12.000. Beruntungnya saya ke Jerman saat bulan Juni 2013, karena tak bisa saya bayangkan harus kesana dengan biaya sendiri dan kurs euro sekarang adalah 16.xxx ribu.

Nah, itu euro, lalu bagaimana dengan dollar? yup, kembali ke pembahasan awal diatas bahwa saya harus membayar biaya tes bahasa inggris (IELTS) Internasional sebesar $195 atau sekitar 2.400.000 rupiah. Di mata saya (orang Indonesia) biaya ini sangat lah besar, hampir 1 kali gaji UMR Surabaya dalam sebulan. Kemudian saya pikir pikir lagi, apakah negara lain juga merasakan hal yang sama bahwa tes bahasa inggris international ini sangatlah mahal? Ternyata setelah saya logika, $195 adalah harga yang 'biasa-biasa' saja karena negara dengan mata uang dollar katakanlah Australia, rata-rata gaji disana mencapai US$ 34.952 (Rp 332 juta) per tahun * sumber

Jadi sebenarnya tidak ada yang mahal jika semua di sesuaikan dengan kemampuan warga di negara tersebut. Namun jika diglobalkan $195 (harga stadart Internasional) adalah harga yang mahal untuk negara yang perekonomiannya masih kembang kempis seperti Indonesia. Kasian ya, Rupiah makin tak ada harganya :(

Kuliah 600 juta

Melihat banyak artis yang kuliah di luar negeri dengan biaya sendiri saya sangat kagum, tapi itu memang wajar mengingat penghasilan mereka di dunia hiburan bisa mengcover semua biaya kuliah di luar negeri. Lalu bagaimana nasib kita?

Sebagai negera berkembang (lagi), Indonesia mendapatkan banyak kucuran beasiswa dari negara maju. Ini adalah hal baiknya, karena pemberi beasiswa juga ingin membangun anak bangsa Indonesia supaya SDM nya makin berkualitas. Alhasil, setiap saya mengunjungi pameran pendidikan luar negeri, masalah Beasiswa/Scholarship tak pernah alpa ditanyakan. Setelah saya pikir pikir, Indonesia melas sekali ya, image nya itu peminta minta beasiswa dan sepertinya nggak ada 'harganya' dimata bangsa lain (but honestly we do need that scholarship, even me).

Konsep harga diri Indonesia ini begitu menarik bagi saya, karena biasanya dalam sebuah pameran pendidikan tiap universitas selalu mendelegasikan utusannya untuk presentasi. Namun sejauh ini masih jarang universitas terkenal mendirikan cabang di Indonesia yang notabene adalah negara 'gede'. Justru Malaysia, Singapura atau Thailand yang menjadi tempat cabang universitas tersebut di regional Asia. Kenapa? mungkin karena kemampuan bahasa Inggris orang orang kita yang kurang mumpuni dibandingkan negara Asia lain yang menggunakan bahasa Inggris dalam kesehariannya (misal di sekolah). Oleh karena itu saya tak kaget lagi jika bicara dengan orang Asia lain seperti brunai atau malaysia yang bahasa inggris nya sudah fasih. 

Kembali ke masalah kuliah di luar negeri, mari kita ambil contoh biaya kuliah di UK untuk mahasiswa international rata rata adalah 13.000 Poundsterling pertahun. Harga ini hampir 5x lipat dengan biaya kuliah mahasiswa lokal sekitar 2000 - 3000 poundsterling per tahun. 13 ribu itu hanya uang kuliah, sedangkan biaya hidup di UK pertahun juga sekitar segituan (silahkan di hitung sendiri dalam rupiah ya). Jadi menurut saya biaya ini sangatlah besar bagi masyarakat biasa, kecuali penguasa atau artis, sehingga beasiswa adalah jalan keluarnya. Alhasil para scholarship hunter di Indonesia ada beribu ribu untuk mendapatkan kesempatan emas mengenyam pendidikan luar negeri dengan Gratis (include me). Ya kecuali ada keajaiban bahwa kurs dollar ke rupiah menjadi 1000 rupiah. 

Negara yang tak dianggap

google images
Siang ini saya menyaksikan Economi ASIA yang ditayangkan di NHK World channel, acara ini membahas pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia dan sekitarnya. Dilayar kaca ditayangkan peta Asia dengan jelas, namun sayangnya Indonesia sebagai kawasan Asia terbesar tak disebut sama sekali. Negara 'kecil' lain seperti Singapura, Brunai dan Malaysia justru perekonomiannya dianggap 'lebih penting' bagi penduduk dunia untuk diketahui. Coba lihat channel international lain, kemajuan Indonesia tak banyak dibahas (dan sepertinya disamakan dengan negara miskin lain). Jadi dimana harga diri kita kalau nggak dianggap kayak begini? Apalagi mata uang kita Rupiah masih punya banyak NOL dipersepsikan sebagai negara 'miskin' atau terbelakang (Tapi alhamdulilah kabarnya mau di redominasi). 

Saya jadi kagum dengan upaya presiden Soekarno dalam meningkatkan martabat Indonesia di mata dunia pada jaman nya. Dia membuat Indonesia sebagai negara yang disegani dan tak dianggap remeh oleh bangsa lain. Bahkan pak Soekarno yang kabarnya bisa banyak bahasa tersebut mampu membuat dirinya sendiri menjadi presiden yang disegani pejabat dunia lain. Ini sangat banyak manfaatnya bagi bangsa Indonesia untuk mampu bersaing dengan negara maju lain supaya diperhitungkan. Itu yang hilang dari Indonesia saat ini. 

"Indonesia banyak korupsi, birokrasi yang rumit, keadaan ekonomi tidak stabil, polisinya tidak bersih"
Itu yang membuat investor asing malas untuk berinvestasi di negara kita. Mereka tidak percaya pada kemampuan Indonesia. Kecuali satu hal, yaitu murahnya biaya buruh kita. Miris sekali bukan. Jadi beginilah, pabrik pabrik milik perusahaan asing didirikan di Indonesia  karena biaya pegawai yang sangat sangat murah dibandingkan dengan keuntungan mereka dalam mata uang dollar (benar benar tidak sebanding).

Malangnya menjadi jajahan Belanda

Jadi sebenarnya ini semua salah siapa?

Jika menelusuri sejarah, maka Belanda memiliki andil besar dalam pembangunan Indonesia di masa penjajahan. Selama 350 tahun apa yang mereka lakukan kepada orang orang Indonesia dan membawa dampak hingga saat ini. Mari kita bandingkan dengan negara bekas jajahan Inggris seperti Singapura dan Malaysia, mereka sangat mahir berbicara bahasa inggris dan negaranya berkembang pesat. Namun ini sangat berbanding terbalik dengan gaya jajahan Belanda yang konsepnya 'membodohkan dan mensengsarakan' atau tidak mencerdaskan negara jajahannya.

Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, Belanda tidak mau warga Indonesia menjadi pintar atau hanya sekedar melek huruf, karena mereka takut ketika orang Indonesia sudah pintar maka akan berbondong bondong melawan mereka. Sehingga saat jaman penjajahan, orang Indonesia benar benar menjadi pembantu dan dianggap sangat rendah harga dirinya. Sedangkan jajahan inggris mencerdaskan negara jajahannya dengan berbagai cara (misalnya mendirikan sekolah untuk pribumi). Hal tersebut mungkin ditujukan agar memberikan kesan yang baik dan bekal untuk membangun negara. Bahkan negara negara bekas jajahan Inggris yang tergabung dalam Commonwealth ini masih sering reuni dan mengadakan kompetisi olahraga bersama.

Menurut saya, disinilah serunya belajar sejarah (yang barusan saya rasakan). Bahwa kondisi Indonesia saat ini adalah kumpulan hasil dari sejarah masa lalu. Tak bisa dipungkiri bahwa dominasi dan hegemoni dari Belanda puluhan tahun lalu masih membekas dan menjadi mindset orang Indonesia saat ini. 
"Saat negara lain sibuk bikin pesawat ke Bulan, Indonesia masih sibuk goyang oplosan"
Mau sampai kapan Indonesia? jangan terus merangkak sedangkan negara lain sudah berlari, kita harus terbang untuk setara dengan yang lain. Saya sebagai generasi muda ingin membuat perubahan walaupun kecil, karena saya yakin urusan harga diri Indonesia bukan hanya butuh waktu 10 atau 30 tahun untuk berubah tapi lebih. Semoga kelak 30 tahun mendatang ketika saya sudah gendong cucu, Indonesia bukan negara abal abal lagi dan cucu saya akan bangga menjadi orang INDONESIA.

25.02.2014

*tulisan ini murni subjektifitas penulis, sangat wajar jika mungkin ada yang tidak sependapat :)

0 comments :

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas