Challenge Yourself Every Single Day

Rabu, 05 Februari 2014

Bagaimana Cara Sholat di Negeri Orang?

Jadwal Sholat saya selama di Ilmenau, Jerman
Saat akan berangkat ke Eropa, pertanyaan mendasar yang selalu saya takutkan adalah bagaimana menjalankan sholat di negeri orang yang notabene minoritas muslim. Saya benar benar tidak punya pengetahuan soal ini dan browsing di internet pun tidak ada referensi yang jelas. Beruntung di Jerman saya tinggal bersama dengan dosen saya pak sur, sehingga beliau menjelaskan jam jam sholat di Jerman yang sangat berbeda dengan di Indonesia.

Susah Bangun Subuh

Saya tidak menyadari bahwa ada perbedaan jam yang sangat jauh antara Indonesia dan Eropa, jadi framework saya tetap menggunakan jam sholat Indonesia. Hehehe. Lalu saya baru ngeh setelah di jelaskan pak Sur. Saya pun langsung tersadar bahwa waktu sholat itu mengikuti terbit dan tenggelam nya matahari. Sejak berada di pesawat dari Indo ke Jerman saya sendiri sudah kebinggungan saking lamanya berada di udara. Sejauh mata memandang jendela hanya ada awan, gelap terus lalu hanya beberapa jam sebelum datang muncul matahari. Kemunculan matahari tersebut saya tafsirkan sebagai waktu subuh yang mulai datang.

Saya rumah pak sur pukul 8 pagi, namun aneh nya jam 5 malam saya sudah terasa ngantuk sekali. Rupa nya itu jam biologis tubuh saya untuk tidur karena di Indonesia sekarang sudah jam 10 malam. Hahaha. Keesokan harinya saya bangun dengan matahari yang sudah meninggi alias terang sekali. Hah, jam berapa ini saya belum sholat subuh ??!!!

Lama kelamaan saya mulai menyesuaikan diri dengan jam dan kondisi alam Jerman. Sholat subuh tentu dilakukan jauh sebelum matahari terbit. Nah, karena di Eropa waktu siang nya lebih panjang di banding waktu malam jadi sholat subuh dilakukan sekitar jam 3 pagi (waktu sahur Indonesia). Padahal saya disana selalu bangun siang sekali, entahlah setiap bangun selalu matahari sudah terik. Tapi mau bagaimana lagi, usai bangun pagi jam berapa pun itu saya langsung ambil air wudhu dari pada tidak sholat sama sekali.

Di bandingkan sholat subuh, sholat dhuhur dan ashar masih bisa ditolerir jam nya dengan jam Indonesia. Sholat Dhuhur dilaksanakan pukul 1an dan ashar pukul 5an. Tapi saya juga binggung karena banyak teman teman saya yang menjamak kedua sholat ini di satu waktu. Tapi saya tidak tahu dasarnya apa, namun saya ikut ikutan -_-

Isya Jam 24.00

Coba dibayangkan, ketika di Jerman saya mendapatkan matahari dengan porsi yang lebih lama dibanding malam hari. Matahari akan muncul pukul 08.00 pagi hingga 22.00 malam, sehingga waktu 'malam' bagi Jerman adalah jam 22.00 - 03.00. Singkat sekali bukan? oleh karena itu menyesuaikan diri dengan sholat mangrib dan isya jam 22.00 dan 24.00 malam. Sehingga saya biasanya menjamaka sholat magrib dengan sholat Isya saya di waktu Magrib.

Sebulan setelah saya pulang adalah waktu Ramadhan bagi umat Islam. Sebelum pulang saya sempat mendengar cerita-cerita pak Sur tentang persiapan menyambut ramadhan. Khususnya waktu puasa mereka yang jauh lebih panjang. Bisa dibilang mereka 4 jam lebih lama dari pada di Indonesia. Jadi ketika kita sudah buka puasa jam 6 malam (magrib) maka di sana akan buka 4 jam kemudian yaitu pukul 10. Ditambah lagi ramadhan tahun ini adalah musim panas/summer yang cuacanya panas dan kering. Subhanallah ya cobaannya :)

Tak Ada Adzan

Sempitnya pikiran saya dulu bahwa sholat di negeri orang itu akan sangat menyusahkan. Karena framework saya di Indonesia setiap beberapa jam sekali adalah waktu sholat. Sehingga bagaimana jika ditengah tengah kelas saya harus menjalankan sholat? apakah bisa di beri ijin? lalu sholat dimana jika tidak ada musola?. Namun ternyata semua nya berbeda. Di Jerman saya lebih banyak menjalankan aktivitas seperti biasa, karena solat ashar pun jam 17.00an dimana waktu tersebut adalah waktu semua aktivitas selesai. Jadi saya bisa leluasa menjalankan kegiatan tanpa takut meninggalkan sholat.

Namun selama sebulan berada disana saya makin merasa jauh sama Allah. Entah lah saya sendiri juga heran, apa karena disini saya jarang dengar adzan. Sholat berjamaah pun tidak pernah karena roommate saya adalah non muslim. Selain itu saya banyak menjamak sholat. Logikanya jika di Indonesia kurang lebih 3-4 jam sekali kita berwudhu dan menghadap Allah namun disini rentang waktunya sangat lama.

Sholat itu apa?

Sempat ada kejadian lucu saat saya menjalankan sholat di kamar. Waktu pertama datang saya sudah menjelaskan kepada roommate saya yang merupakan orang vietnam, bahwa pada jam jam tertentu saya harus melaksanakan ibadah/ take pray. Dia pun mengangguk dan mempersilahkan saya untuk menjalan kan ibadah.  Namun kali pertama saya sholat dia terus memperhatikan saya, hingga kemudian selesai salam dia bertanya pada saya. "Kenapa kamu menoleh ke kanan dan ke kiri (maksudnya waktu salam terakhir)?", kata dia.

Rupanya dia memperhatikan gerakan saya selama sholat tadi. Lalu sayapun bertanya, "Memang nya kamu tidak pernah melihat orang sholat di negaramu?", kata saya sambil tersenyum. Dia pun menjawab tidak pernah. Akhirnya saya pun menjelaskan bahwa menoleh ke kanan dan ke kiri adalah penutup/akhir dari ritual berdoa saya. Dia pun bertanya lagi apa yang saya baca dan berapa kali saya harus melakukan sholat dalam sehari dll. Saya pun menjelaskan dengan ilmu yang saya punya hingga akhirnya dia faham. Ini merupakan kali pertama bagi saya untuk menjelaskan makna sholat kepada orang lain. Malu rasanya jika saya sendiri tidak tahu apa kandungan yang ada di balik sholat.

Sejak saat itu dia justru sering mengingatkan saya. "Dina, apakah kamu tidak sholat?"
Mungkin benar kata orang, bahwa justru jauh di negeri orang kita sense of belongin sebagai muslim semakin bertambah. Banyak orang yang justru mendapatkan hidayah Allah di negera yang kaum muslim menjadi minoritas. Karena saat itulah keimanan kita di uji oleh Allah. Di Indonesia mungkin kita sholat karena memang banyak teman teman kita yang juga sholat jadi merasa aman dan mayoritas. Namun di luar negeri banyak cobaan ditengah keterbatasan tempat, waktu dan 'kaum seperjuangan'.

Mencari Tempat Sholat

Satu lagi cobaan sholat di negeri orang adalah jarang terdapat masjid atau musola. Jika ada maka hanya satu atau dua saja di suatu kota. Masjid ini bahkan tidak begitu menonjol karena kebanyakan masjid di sana bentuknya seperti rumah biasa. Begitu berbeda dengan di Indonesia yang megah dan ada kubah yang besar.

Selama di Jerman saya tidak pernah menemui masjid, sehingga saya sholat dimana saja. Saat di kereta saya sholat di tempat duduk, tanpa menggunakan mukena, yang penting semua aurat tertutup. Saat di stasiun saya dan teman saya sholat di pojokan stasiun, untungnya stasiun nya udah sepi. Hehehe. Yang penting jangan sholat di kerumunan orang kalo nggak mau di lihati. Hehehe. Lebih aman duduk di taman taman atau cari tempat sepi. Masalah wudhu menjadi sedikit rumit juga karena kebanyakan kamar mandi di Jerman adalah kamar mandi kering. Jadi wudhu tidak selega di Indonesia, karena cuci kaki nya dilap pakai tangan gitu.

*******

Semua pengalaman diatas menjadikan saya lebih berhati hati dalam sholat. Saat mengunjungi negara lain pastikan anda sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang sholat

1. Siapkan kompas untuk menentukan arah kiblat
2. Browsing dan simpan jadwal waktu sholat setempat
3. Untuk wanita selalu bawa sarung tangan dan kaos kaki bersih sebagai pengganti mukena (in case)
4. Bertanyalah pada ustad atau guru agama anda tentang aturan menjamak sholat

Semoga bermanfaat :)

2 comments :

Anita mengatakan...

Assalamualaikum kak, maaf maw tanya , saya juga sedang di eropa , tapi masih baru baru jafi saya rada bingung sama wufhunya itu , kira kira ggimana ya kak? Kan kalo wudhu diluar gitu masak tangan sama kakinya dibuka buka kan jafi nhebuka aurot kak. Mohon jawabannya ya kak, jazakunullahu lhoiron

Paramadina mengatakan...

@Anita

Halo mbk Anita, kalau berdasarkan pengalaman saya, saya wudhu di toilet perempuan, jadi kan tidak kuatir aurat terlihat oleh selain wanita.

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas