Challenge Yourself Every Single Day

Jumat, 12 Juli 2013

Eurotrip 2 : From Volendam to Red Light District Amsterdam


Itu bukan Rebana, itu keju. Cheese :)
[11 - 12 Juni 2013] Frankfurt - Munich
(Nah ini kelanjutan dari postingan sebelumnya, Eurotrip 1 )

:: Titip Koper Sebentar di Frankfurt

Kami bertujuh sampai di stasiun Frankfurt tepat tanggal 10 Juni 2013 jam 9 pagi. Lega rasanya, perjalanan dan cerita panjang dari Munich sangat menyenangkan. Setibanya di Frankfurt maka kami yang awalnya bertujuh pecah jadi 3 kelompok. Saya awalnya mau ikut kelompok Mila dan Citra yang akan ke Barcelona dengan Euro Global Pass, semacam tiket terusan kereta selama 15 hari. Namun karena harga tiketnya yang sudah melambung hingga 400 euro maka saya banting stir. Saya pun ikut rombongan si Dea, Angga dan Pandu, we are going to Amsterdam.

Kami berempat pergi ala ransel nih. Kami tidak pergi naik kereta melainkan naik bus bernama Eurolines. Memang idealnya naik kereta antar negara yaitu kereta cepat, tapi harganya rata rata 100 euro. Tapi kami pilih yang murah yaitu bus yang harganya berkisar 40 euro an. Cuman ya gitu, bus ini bus malam, sisi positifnya adalah kami bisa menghemat biaya penginapan kan. Saya dan Angga beli tiket ke Amsterdam seharga 40 Euro dan bus berangkat jam 12 malam dari Frankfurt Haubanhoft. Widiyyy, berarti kami masih punya banyak waktu di Frankfurt sambil menunggu jam 12 malam nanti. Dan yang pertama kali kami lakukan adalah mencari penitipan koper.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini kami ingin titip koper dengan waktu yang cukup lama. Jadi kami minta tolong ke teman teman PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) yang ada di Frankfurt. Barangkali ada rumah teman PPI disini yang bisa dititipi koper kami. Dan kamipun bertemu dengan Ucup, dia sedang menjalani proses sekolah S1 disini, dan dialah yang dengan senang hati membantu kami. Karena Ucup sendiri sedikit sibuk hari ini, jadi Ucup membawa kami pada Rizki. Kamipun menitipkan koper di tempat Rizki tinggal. Fuihhhh, lega banget setelah pergi nggak bawa bawa koper. Kami akan menitipkan koper di tempat Rizki hingga kami pulang nanti ke Indonesia (lama juga kan ya).

Usai nitip koper, kamipun jalan jalan ke pusat kota Frankfurt. Dan kamipun belanja di Primark. Primark adalah tanah abangnya Frankfurt. Soalnya barang barangnya murah abis dan kualitasnya rata rata. Jauh Jauh ke Jerman dapetnya Made In China juga disini. Hahaha
Tanah Abang nya Frankfurt : PRIMARK (almost made in China)

Usai belanja terus makan deh di China Box. China Box jadi tempat favorit saya karena makananya Asia dan enak. Dua kali ke China Box saya selalu join makan sama teman saya karena porsinya besar dan harganya mahal. Pas lagi makan si Rizki nyamperin kita, dia mau nganter kita nunggu bus ke Amsterdam ceritanya. Habis makan jam nya juga masih sore aja. Dan sambil nunggu jam 12 malam kami pun di ajak jalan jalan sama si Rizki ke Red Distric nya Frankfurt. Tempatnya berada tak jauh dari stasiun Frankfurt. Dengan bimbingan Rizki kami pun dibuat tercengang dengan red distric disini. Red Distric adalah semacam lokalisasi lah, tapi disini lebih beragam. Ada live performance, pub hingga bioskop bioskop yang muter blue film. Semuanya gemerlap dan dijaga bapak bapak gitu didepannya. Wah beruntung nih diajak Rizki kemari, jadi tahu gambaran sebenarnya red distric disini :p
Usai berkunjung ke Red Distric Frankfurt with Rizki (paling kanan)
Karena lama lama takut juga berkeliaran di Red Distric, kamipun memutuskan untuk bersiap menunggu bus ke Amsterdam. Jam sudah hampir pukul 12 malam, dan seharusnya bus segera datang namun ternyata Jerman juga bisa telat. Mana udara diluar gerimis campur dingin. Bbbbrrrrr. Thanks to Rizky yang sudah nganter kita sampai jam segini ya, tolong jaga koper koper kami :))

:: Welcome to Amsterdam, Kota Mahal

At Amstel Station, kagak mandi 2 hari
Bus kami sampai juga di Amsterdam pagi ini jam 6. Alhamdulilahhh, semalam tidur di bus sakit semua rasanya. Bus kami turun di Amstel Station dan kami masih harus meneruskan perjalanan ke Haderwijk dengan menggunakan kereta. Berbeda dengan Jerman, di Belanda tidak ada tiket kereta rombongan sehingga tiap orang harus membeli sendiri sendiri. Tiket dari Amstel Station ke Haderwijk saja sekali jalan 14 Euro. Wikkk mahal banget kan. Selama di Belanda kami akan tinggal di rumah kenalan. Dia adalah kenalan ku yang aku panggil tante. Ya walaupun tante jauh karena dia adalah teman dari-temannya-tetangga-ibukku *nahlo binggung?. Namanya Tante Iis. Dia sudah hampir 30 tahun tinggal di belanda bersama dengan suami dan kedua anaknya.

Sesampainya kami di Haderwijk kami pun langsung disambut oleh Tante Iis. Ternyata beliau sudah memesankan taxi untuk kami berempat. Wah jadi sungkan nih ngerepoti. Dan ketika sudah sampek rumah tante Iis kami langsung tidur pulas di kasur. Ya iya lahhh, sudah sejak tanggal 9 kami nggak ketemu kasur, soalnya kami selalu tidur di kereta dan bus. Tante Iis mempersilahkan kami untuk tidur sejenak dan istrahat, nanti sore dilanjut jalan jalan ke Volendam bersama sang suami. Asikk :))
(atas) Kamar nyaman di rumah Tante Iis, we love kasurrr :*
:: Rumahnya Kincir Angin, Volendam !

Sorenya kamipun jalan jalan ke Volendam menggunakan mobil suaminya tante Iis. Suaminya orang belanda tapi selera humornya kocak banget. Sepanjang jalan kami tak berhenti bercanda. Volendam merupakan sebuah desa yang ada di Amsterdam. Volendam terkenal dengan kincir anginnya. Akses menuju ke Volendam sepertinya cukup susah dengan transportasi biasa. Karena memang jauh dan sepertinya harus lewat jalan tol. Wah kami beruntung sekali bisa diantar naik mobil (gratisss).

(tengah) Tante Iis, Anggun C Sasmi banget kan :p
 Then, bagaimana rasanya sampai di Belanda din? emmm, tidak jauh dengan Jerman. Bagus landscape kota dan bangunan bangunanya. Cuman disini sepanjang mata memandang banyak sekali sepeda ontel. Sama kayak Surabaya versi lebih rapinya. Ketika saya lewat jalan tol juga berasa di Surabaya. Karena hawanya sedang panas dan gersang.

Nah tujuan pertama kami adalah foto di kincir angin ini. Suaminya tante Iis cerita banyak sekali tentang Volendam. Dan kami makin excited karenanya. Sayangnya kincir angin dibelakang saya ini sudah tidak beroperasi lagi. Usai di kincir angin kami pun pergi ke pantainya. Aku lupa nama persisnya cuman ini seperti desa Volendam yang sesungguhnya. Di sini berdekatan dengan pantai dan banyak kapal. Sayangnya aku tidak begitu faham dengan kota ini jadi asal jalan aja. Mungkin yang terkenal disini adalah arena foto foto menggunakan pakaian khas Belanda. Yup, ternyata disinilah letak studio2 foto tersebut.


Kami sempat ngintip ngintip studio nya. Dan ternyata tante Iis nraktir kita berempat buat foto ala  noni noni belanda itu. Wah kesempatann, haha. Dan ini dia hasilnya.....

Epic banget kan yaaa, keluarga nelayann :))
Menurut saya Volendam desa yang sangat cantik dan menarik. Disini banyak rumah rumah dengan arsitektur khas belanda yang lucu. Kami juga sempat blusukan ke gang gang kecil di sini, dan ternyata banyak rumah rumah kecil yang bagus banget disini. Apalagi ada pantai didepannya, lengkap sudah hidup ini.

Bangunan bangunan tua nan apik
Studio kustum belanda, ada banyak sekali studio disekitar sini
Rumahnya lucu lucu
Saya yakin setiap turis yang ke Belanda pasti wajib mampir ke sini. Karena disinilah kita bisa menemui sisi lain Belanda yang terkenal dengan kincir anginya itu. Oia, belanda juga terkenal dengan keju nya yang berbentuk bulat. Seperti yang terlihat di foto paling atas itu. Saya ambil foto tersebut di Volendam, dan tokonya juga menyajikan proses pembuatan keju nya yang masih tradisional. Harganya yang di bandrol juga lumayan mahal sih sekitar 3 euro keatas. Disediakan juga dengan beragam rasa, dan biasanya dimakan dalam bentuk slice sebagai isi roti. Sore harinya kamipun pulang, namun sebelumnya kami mengantar Angga dan Dea yang akan meneruskan perjalanan ke Paris hari ini.

:: Amsterdam Central, Day 2

Esok harinya tinggal saya dan Pandu nih berdua. Dea dan Angga sudah sampai Paris dan mereka juga langsung pulang ke Jerman malam hari ini. Agenda ku dan Pandu hari ini adalah main ke Amsterdam Central alias pusat kota Amsterdam. Kami ditemani oleh tante Iis dan dua orang temannya yang juga orang Indonesia yaitu Tante Tri dan satunya lupa :p.

At Amsterdam Central Station :)
Sebelum berangkat seperti biasa kami menitipkan barang bawaan. Untungnya koper sudah di taruh di rumah Rizki jadi kami cukup pakai 1 loker. Kami berlima pun menyusuri kota Amsterdam menggunakan trem. Tante Iis dan temannya sangat membantu kami. Apalagi dalam hal tiket tiket, hampir rata rata beliau yang membelikan untuk kami. Wah kami jadi sungkan, semuanya di bayari. Hehehe. Oleh karena itu saya dan pandu jadi nggak faham gimana sistem ticketing di Belanda. Sepertinya berbeda dengan di Jerman sih.

Kota Amsterdam sangat padat dengan lalu lalang sepeda ontel dan mobil. Again, ini adalah Surabaya/Jakarta dengan versi yang lebih teratur. Haha. Jumlah sepeda di sini tak tanggung tanggung lho, parkiran penuh. Sama persis dengan Indonesia yang penuh dengan sepeda motor. Tapi disini parkiran sepeda nya sampai ada yang tingkat 2, saking banyaknya ya mungkin. Ada juga yang di taruh begitu aja di pinggir jembatan dan di gembok. Nah ini yang bikin semrawut di Amsterdam. Oia, Amsterdam ini ada sungai ditengah kota yang membelah Amsterdam menjadi dua sisi. Sungai ini dimanfaatkan sebagai sarana wisata bagi turis. Tak hanya kapal kecil, disini juga disediakan kapal besar sebesar kapal pesiar. Tapi sungainya bersih kok jadi seneng ngelihatnya.

(Tumpukan) Parkiran sepeda yang banyak banget

Sungai di tengah kota Amsterdam, bisa berwisata dgn kapal juga klo mau
Lalu kami berkunjung ke Rijk Museum. Kata tante Tri kami berdua beruntung bisa ke Rijk Museum karena museum ini bagus sekali. Selain ini Rijk Museum baru dibuka tahun ini setelah renovasi sekitar 10 tahun. Karena rekomendasi tersebut saya dan pandu tertarik untuk masuk dengan membayar 15 euro.
Rijks Museum : Koleksi Keseniannya lengkap abis
Rijks Museum sangat lengkap koleksinya. Setiap pengunjung yang masuk selalu diberi peta museum ini saking gedenya. Ada yang mulai tahun 1000an hingga 2000an saat ini. Saya juga sempat menemukan koleksi pakaian adat indonesia di sini. Namun 2 atau 3 jam saja tidak cukup untuk menikmati semua ruang di museum ini. Saya dan Pandu memutuskan untuk keluar setelah 2 jam berkeliling karena lumayan membosankan juga lihat2 begini, maklum kami tak punya sense seni yang tinggi. Di depan museum ini ada icon belanda yang wajib jadi tempat foto para turis. Yaitu tulisan gede I AMSTERDAM !

Susah dpt foto yang oke dan bersih disini, karena rame orang :(
:: Souvenir aneh aneh ala Belanda

Rencana selanjutnya adalah belanja oleh oleh. Di sini sepertinya memang jarang ada Mall, yang ada adalah shopping distric gitu. Jadi tiap toko atau brand punya satu rumah yang berada di pinggir jalan. Menyenangkan sekali belanja dengan suasana seperti itu sekalian bisa jalan jalan di ruang terbuka. Saya pun mampir ke toko suvenir yang ada dipinggir2 jalan. Dan harganya ternyata lumayan mahal untuk suvenir2 kaos gitu. Jadi saya pilih beli suvenir gantungan kunci, hehhe *tetepgolekmurah.
Yang jualan ternyata orang Indonesia :)

Ada satu toko yang kami datangi yaitu I Love Sale dan ternyata yang jual orang Indonesia lho. Wih saya sampek di kasih gratisan satu stiker khas belanda gitu. Oia, Belanda terkenal dengan negara yang lumayan bebas. Misalnya saja narkoba yang memang legal disini. Satu lagi yang terkenal adalah Red Distric nya. Ini bisa saya lihat dari berbagai produk suvenir yang aneh aneh.
picture by Google Images
Mulai dari gambar cewek cewek sexy di kaos, sex toy, gantungan kunci dengan bentuk alat kelamin, celana dalam yang terbuat dari permen, dan.....wah pokoknya macem macem dah. Haduhhh, saya sampek geleng geleng kepala. Sayangnya nggak sempet saya foto itu suvenirnya. Hahaha...Selebihnya sih standart ada klompen klompenan dari kain, kaos, gantungan kunci klompen hingga minatur kincir angin. Memang Red District di sini terkenal banget. Ya, walaupun saya cuman sepat lewat doang tanpa bisa menikmati euforia didalamnya *eh. Pas lewat juga nggak sadar kalau itu Red District soalnya langit masih belum gelap. Means red disctrict belum buka dong ya. Tapi kalau penasaran bisa googling deh dengan keyword Red Light District Amsterdam. Di jamin langsung punya gambaran dan faham :|

Perjalanan saya di Belanda berakhir di sini, disebelahnya Madam Tussand (lupa nama gedungnya :p)
:: Kehabisan tiket ke Paris

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Toko toko mulai tutup dan kami pun bergegas kembali ke Amsterdam Central Station. Saya dan Pandu harus meneruskan perjalanan ke Paris malam ini. Tapi gawatnya kami belum punya tiket bus kesana. Jadi kami berlima pergi ke Amstel Station untuk membeli tiket bus di Eurolines. Tapi apesnya tiket ke Paris malam ini sudah HABIS. Wah kami panik dong, akhirnya kami balik lagi ke Amsterdam Central untuk ngecek tiket kereta. Setelah kami cek ternyata masih ada seat tapi dengan harga 70-150an euro. Yasudah deh kami pilih kereta dari pada harus nginep sehari lagi di rumah tante Iis. Setelah ambil nomer antrian beli tiket, lhadalahhhh ternyata tiketnya uda ludesss. 

Kami balik lagi ke tempat bus akhirnya. Karena bapak petugasnya bilang kalo misalnya nanti ada penumpang yang nggak datang pas bus mau berangkat kami boleh ikut. Jadi kami masih waiting list sampek jam 10 malam. Tante Iis pun lumayan cemas dengan nasib kami, beliau menelpon temannya yang berada di dekat stasiun bus ini. Jaga jaga kalau kami tak ke angkut malam ini maka kami akan tidur di rumah temannya tersebut. Karena jika harus balik ke rumah tante Iis lagi itu terlalu jauh. 
Tante Iis (orange) dan Tante Tri, thanks for your help :')

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Seluruh penumpang bus sudah masuk semua. Kami berdoa semoga ada penumpang yang cancel dua orang aja. Dan Alhamdulilahhhh tak lama kemudian kami pun dipanggil oleh sang petugas. Yeayyyy, kami ke angkut juga ke Paris malam ini. Saya dan Pandu mengucapkan terima kasih ke Tante Iis dan kedua temannya yang susah payah bantu kami wara wiri cari transport ke Paris. Selama di Belanda juga banyak dibantu dan di traktirrr. Pas udah di atas bus kami lambaikan tangan ke mereka dengan perasaan terharu. Duh, mereka baik sekali ke kami. Padahal kami bukan siapa siapa nya mereka. Semoga di balas sama yang maha kuasa ya tante :))

**Perjalanan di Belanda usai sudahhh, walaupun hanya dua hari satu malam tapi sangat berkesan. Tahun depan saya sudah berjanji ke Tante Iis dan Suami nya untuk kembali ke rumah mereka. Amin :) **

0 comments :

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas