Challenge Yourself Every Single Day

Senin, 08 Juli 2013

Eurotrip 1 : Membeku Tunggu Allianz Arena Nyala

Formasi lengkap !
[9-10 Juni 2013] MUNICH

:: From Ilmenau to Munich

Munich menjadi tujuan pertama kami seusai perhelatan ISWI. Dari Ilmenau pagi pagi sekali jam 7 kami ber tujuh bertolak dengan menggunakan kereta db bahn. Dari Ilmenau kami harus naik bus menuju Erfurt Haubanhoft dan dilanjutkan dengan kereta menuju ke Munich. Perjalanan ke Munich cukup lama, karena memang jarak yang kami tempuh lumayan panjang. Kami juga harus berpindah kereta sekitar 3 kali, dan baru datang sekitar pukul 5 sore. Wah sayang nya sore ini Munich sedang hujan, sehingga kami sedikit kecewa. Sebenarnya jika cuaca cerah kami bisa membeli tiket kereta/trem wisata yang bisa membawa kami ke spot spot wisata di kota ini. Namun karena hujan jadi kami hanya mengunjungi beberapa tempat saja, selain itu waktunya juga sudah sore.
Stasiun Munich
Sebenarnya tujuan utama ke Munich adalah ke Allianz Arena. Well, saya tidak begitu faham tentang sepak bola namun nama Allianz Arena cukup familiar di telinga saya. Sebelum berangkat kami makan dulu dengan menu seperti kemarin kemarin yaitu Kebab. Katanya kota Munich merupakan salah satu kota mahal di Jerman. Dan saya membuktikannya disini. Oia, supaya kami tak harus bersusah payah bawa koper kami pun menitipkannya di loker yang berada di stasiun ini.

Di Jerman memang banyak terdapat loker yang berfungsi sebagai tempat penitipan koper bagi turis atau penduduk setempat. Dan ini sangat efektif, dengan membayar 3,5 - 5 euro maka saya bisa menitipkan koper saya selama 24 jam. Saya tinggal memegang kunci loker dan membukanya dengan kunci tersebut nantinya. Karena koper kita bertujuh besar besar sekali maka kami harus menyewa 3 loker untuk menampung barang2 kami semua. Memang nampaknya kami sedikit salah strategi karena sampai di Munich nya kami terlalu sore, sehingga waktu jalan jalan hanya beberapa jam saja. Tapi yasudahlahhh :)
di depan loker bersama koper koper kami

Usai makan kebab, kami pun naik kereta menuju Allianz Arena. Hujan juga masih belum berhenti, namun mendingan lah udah rintik rintik. Tapi itu berimbas pada udara yang makin dingin tak karuan. Mana saya tak pakek jaket tebal dan hanya berbalut jaket jeans lusuh ini. Untuk sampai ke Allianz Arena kami masih harus naik bus. Selama di bus kami lewat semacam jalan tol dan ini berasa lagi di Surabaya. Soalnya jalan dan pemandangannya ya aspal sama pohon pohon hijau biasa. krik. Tak beberapa lama kemudian kamipun turun di terminal bus, dan tinggal jalan aja ke Allianz Arenanya. Entah kenapa sepi banget nih terminal busnya. Kamipun makin girang soalnya bentar lagi bisa liat Allianz Arena yang 'katanya' keren ituuu. Tak disangka jarak jalannya lumayan jauh juga dari tempat turun bus kami. Kami pun jalan sambil bercanda sana sini tapi nggak nyampek nyampek juga. Hahaha

:: Pemberi Harapan Palsu Bernama Allianz


Akhirnyaaaa kelihatan juga nih si stadionnn. Memang ternyata besar dan megah banget kecuali udaranya, brrr. Kita langsung girang dan foto foto, mulai dari pose duduk, merangkak hingga loncat kiri kanan. Kita pun berharap bisa masuk ke dalam namun saya karena hari libur atau karena kita datang kemalaman jadi kita cuman bisa gigit jari di luar. Dan skrng yang sedang kami tunggu adalah kapan nih gentengnyasi Allianz nyala? Kami nunggu sampek mati gaya. Ya, kata petugasnya gentengnya nyala kalo langit sudah gelap. Sedangkan kami disana udah dari jam stgh 7 - skrng jam 9 malam. Dan heloooo, ini eropaaa, langit gelap sekitar jam 10 malam keatas. Namun kami tak mau menyerah dan istiqomah menunggu lampu menyala. Dannnnn, ahhh nggak nyala nyala juga tapi angin tambah kenceng ademnyaaa. "Oke, 15 menit lagi kalo nggak nyala kita pulang," kata salah seorang dari kami. 15 menit kemudiannnnn, kami pun PULANG. Hahaha

BEFORE
AFTER (Duh, kapan nih nyala, uda jam 9 langit nggak gelap gelap)
Yeay, nyala jugaaa :D
Yahhh, memang mungkin belum rejeki kita lihat lampunya Allianz Arena ya. Ujar kami sembari berjalan pulang dan say good bye to Allianz Arena. Tapi setelah kita berjalan 5 menit, ternyata si lampu nyala juga. Hahaha, kami pun langsung semburattt lari lagi ambil foto. "Eh katanya warnanya nggak cuman kuning lho?" | "Oh ya?". Tapi kami tak tahu pasti kapan lampu akan berganti warna. Hingga kami pun bertemu salah seorang pengunjung yang dtang juga kemari. Dia bilang warnanya akan ganti jadi X kalau ada tim X bertanding disini, dan akan ganti lagi kalo yang bertanding tim Y. Yasudah, usai foto foto  kamipun pulang. Nah, pas udah duduk di bus kami masih sempat melihat Allianz Arena. Dan ternyataa warnanya berubah jadi Merahhhh. Aaaaargggghhhhhhhhhh !!!!!

:: Mrinding, Kerasukan Neus Rathaus

Jam sudah menunjukkan jam 9 lebih (seingatku), sedangkan kereta pulang kami ke Frankfurt masih jam 12 malam nanti. Kemana lagi nih???? kami masih ingin memanfaatkan tiket muter muter kota kami di Munich. Kamipun lihat peta dan ketemu spot selanjutnya yaitu Neus Ranhaues. Sebenarnya kami sudah capek sih pasca nunggu Allianz Arena nyala soalnya kedinginan akut. Tapi jadwal pulang masih lama juga, jadi kami jalan agak males malesan gitu. Tapi pas sampai di TKP kami bertujuh langsung tertegun, glekkk.

This ! (foto ku jelek, ini ambil dari Google)
See. Foto diatas adalah Neus Rathaus di siang hari. Sedangkan saya kesana pas malam dan langit sudah gelap. Bayangkannn bagaimana mistis dan menyeramkannya bangunan ini. Saya sendiri yang pertama kali melihat ini langsung mrinding. Karena kesan horornya dapat banget. Disekitar bangunannya di kelilingi dengan banyak sekali patung patung tua yang horor juga. Dan pas malem kayaknya mereka hidup gitu. Mirip kastil atau gereja tapi saya sempat baca ternyata bangunan ini adalah rumah makan atau sejenis restaurant. Sebanyak apapun kami memotret gedung ini tetap saja tidak bisa menggambarkan Neus Rathaus yang kami lihat sendiri. Keren banget dah bangunan iniiii :*
one of the best capture of Neus Rathaus

Nah ini baru jepretan saya, mistis banget kan pas malam :(
Puas foto foto kami duduk duduk disekitar sini. Toko toko sudah pada tutup karena emang sudah malam. Eh salah satu temenku nemu outlet jualan suvenir yang isinya mercendise sepak bola Bayer Munchen yang khas warna merah itu. Wah yang pada demen sepak bola langsung kecewa soalnya nggak sempet beli karena tokonya sudah tutup :(. Dan akhirnya si Angga dan Pandu menjanjikan kepada kami akan kembali lagi ke Munchen sebelum going back to Indonesiaa. Akhirnya kami pun saling request pesenan masing masing ke mereka berdua, Hahha ya walaupun akhirnya nggak ada yg balik ke Munchen lagi ceritanya nanti di ending.

:: Kisah Bapak Bule Baik Si Masinis Kereta DB Bahn

Nah kali ini kami benar benar pulang. Kami sudah beli tiket ke Frankfurt jam 12 malam. Sesampainya di stasiun kami ambil koper dan bergegas menuju platform kereta kami. Panjang sekali ceritanya nih soal tiket kami. Tiket rombongan di Jerman hanya untuk 5 orang, dan berlaku seharian hingga pukul 3 dini hari. Namun sialnya tiket kami hilang satu. Jadi statusnya hanya kami ber 5 yang legal sedangkan 2 teman kami ilegal. Karena malas beli tiket lagi yang mahal jadi salah satu temanku harus menyusup di kereta, sedangkan temanku yang satunya menggunakan tiket terusan Eropa nya.

Pemeriksaan tiket kereta di Jerman memang bukan menggunakan mesin. Melainkan berdasarkan asas kejujuran, sehingga petugas hanya sewaktu waktu datang secara tiba tiba dan minta tiket kita. Dan kurang beruntungnya kami, pas itu ada petugas yang keliling, Namun kami sudah menyusun strategi jika hal ini terjadi, dan solusinya adalah si Angga harus menyelinap di kamar mandi. Haha, alhasil Angga bersembunyi di kamar mandi cukup lama sampai mendapatkan kode aman dari kami. Alhamdulilah nggak ketahuan juga sama petugasnya.

Tengah malam sekitar jam 2 pagi kami bertujuh harus transit untuk menunggu kereta selanjutnya yang datang jam 5 pagi. Jadi kami tidur di stasiun tempat kami transit. Untungnya stasiun nya masih buka sampai malam dan hangat di dalam. Soalnya di luar dingin sekali :( . Kamipun tidur seadanya di sebuah kursi panjang, beberapa dari kami juga melaksanakan solat disini. Besok paginya kami bangun jam 4, karena kami harus 
Mila pules banget tidurnya, haha
beli tiket kereta dari stasiun ini (lupa namanya) ke Frankfurt. Soalnya udah lebih dari jam 3 pagi.

Tapi sang ahli pertiketan (Angga) kesulitan menggunakan mesin penjual tiket yang ternyata rusak. Wah gimana dong. Dan tak disangka ternyata ada bapak masinis DB Bahn yang mbantuin kita. Bapak ini ternyata masinis untuk kereta yang akan kita tumpangi. Beliau tidur di stasiun ini juga karena kerja dijadwal terpagi hari ini. Setelah dibantu bapaknya ternyata tetap saja tiket tak mau keluar dari mesinnya. Akhirnya karena jam berangkat kereta nya udah deket, bapaknya dengan baik hati mempersilahkan kami bertujuh masuk keretanya. Jadi kami beli tiketnya belakangan pas sampai di stasiun tujuan. "Wah bapak bulenya baik banget." Kami pun naik dengan semi semi terharu di kereta. Oia, ternyata kereta ini nggak langsung ke Frankfurt, kata si Bapak bule masinis kami harus turun di 3 stasiun berikutnya dan ganti dengan kereta yang lain. Nah pas udah sampai di stasiun tempat kami transit, kami pun turun. "Jangan lupa, kereta ke Frankfurt berangkat 3 menit seturunnya kalian dari kereta ini ya," kata Bapak bule. Wah 3 menit nggak cukup nih buat turun naik ke platform berikutnya, jadi kami memutuskan untuk ikut kereta yang berikutnya yang datang sekitar 5-10 menit lagi.

Sembari menunggu, Pandu dan Angga pun membeli tiket yang belum sempat terbeli tadi. Sedangkan di sebrang sana kereta yang bapak bule masinis maksud sudah hampir jalan. Kami pun santai saja, karena kami memang mau naik kereta yang berikutnya. Eh tapi tak disangka, si bapak bule masinis tiba tiba turun menghampiri kami. "Hey, that's the Train !", kata si bapak sambil teriak ke kami. Kami yang sebelumnya santai duduk duduk tiba tiba tas kami langsung di samber sama bapaknya. Sang bapak bantu kami ngangkut koper+tas kami ke platform sebrang. Padahal kami nggak niat naik. Si bapak sampai ngelobby masinisnya buat nunggu kami sebentar. Sementara teman saya manggil Angga dan Pandu yg lagi beli tiket.
Ini nih interior keretanya, bagaimana? bagus? setuju?
Kami bertujuh pun sudah masuk semua ke kereta menuju Frankfurt ini. "Oh thank you sir, thank you very much," kata kami. Kami semua saling bengong di dalam kereta. Dengan nafas yang masih ngos ngosan kami semua terharu. Si angga dan pandu belum sempet bayar tiket kereta bapaknya yang tadi. Dan itu artinya sang bapak ngasih tumpangan kereta gratis ke kami ber tujuh. Udah ngasi tumpangan gratis, si bapak bantu kita angkat koper gede gede kita buat naik ke kereta yang tinggal 3 menit lagi berangkat ini. Wah bapaknya super baik sekali ke kami.

"Mungkin karena kita kelihatan kecil kecil jadi bapaknya kasihan ke kita ya, trus di bantu," kata kami. Peristiwa itu tadi langsung menghapus anggapan kalo bule jerman itu sombong. Nah contohnya si bapak ini tadi, dia super baik ke kita. Mulai dari bantuin beli tiket, ngasih tumpangan gratis sampek angkatin koper ke kereta yang harus naik turun tangga. You are angle without wings sir :')



*Nah Cerita ke Munich berakhir disini, jangan lupa baca postingan selanjutnya di perjalanan ke Belanda dan Prancis yaa :))

3 comments :

lukmanul hakim mengatakan...

wih..

Paramadina mengatakan...

wihh, apik kan :p

lukmanul hakim mengatakan...

mesti lak garai ngiri hehe :p
super sekali mbak..

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas