Challenge Yourself Every Single Day

Selasa, 16 April 2013

Perjalanan ke Negeri Jauh dan Pulang ke Titik Nol

Saat ini seorang traveler bukan hanya melakukan penjelajahan, namun juga penjajahan

Berawal dari sebuah perjalanan panjang menuju sebuah negeri bernama Afganistan,  Agustinus Wibowo menuliskan buku berjudul Titik Nol ini. Walaupun secara pribadi saya belum pernah membaca isinya, namun saya mendapatkan gambaran betapa menariknya buku ini. Yup, saya bertemu secara langsung dengan Agustinus Wibowo siang ini (14/04/2013) di sebuah perpustakaan kecil di Ngagel Rejo. Dalam sebuah diskusi hangat bertajuk Bedah Buku 'Titik Nol' ini saya belajar banyak mengenai seluk beluk penulisan catatan perjalanan.

Saya merasa sangat dekat dengan topik ini, karena saya lumayan sering bahkan hobi menuliskan catatan perjalanan pribadi saya di blog. Ternyata banyak hal yang masih belum saya ketahui, bahwa menuliskan pengalaman pribadi juga ada caranya. Bukan seenak pendapat pribadi saja, karena sekecil apapun tulisan kita tentang suatu tempat hal tersebut juga memberikan dampak pada tempat tersebut baik langsung maupun tidak langsung.

Salah satu kita suci para traveller adalah buku Lonely Planet. Traveller macam apapun rasanya belum afdol jika belum membaca buku ini sebagai panduan perjalanan. Namun siapa sangka bahwa menurut Agustinus Wibowo banyak juga para penulis yang bahkan tidak pernah ke termpat yang sedang ia tulis. Ia hanya ngobrol di suatu tempat dengan penduduk setempat dan menanyakan seluk beluk tempat tersebut. Apakah itu masih bisa disebut catatan perjalanan?

"Terkadang penulis melakukan generalisasi pada suatu tempat, pelabelan serta terlalu cepat nge-judge," tuturnya. Misalnya saja kita datang ke tempat A, lalu kita kena copet di tempat A tersebut, maka kita secara cepat melabeli tempat A sebagai sarang pencopet. Hal tersebut tentu sangat berbahaya, terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa menelusuri lebih lanjut. Ingat bahwa travel writing adalah pengalaman pribadi, jadi tidak semua orang akan mengalami hal yang sama yang ditulis oleh penulis. 

Menurut Agustinus Wibowo, sampai saat ini belum semua tempat siap untuk kunjungan mass tourist. Lambat laun hubungan antar manusia menjadi terdegradasi dengan jual beli eksotisme. Misalnya saja kita datang ke suku A lalu memotret mereka hanya karena mereka eksotis menurut mereka. Padahal mereka juga manusia seperti kita, bukan patung ataupun benda. Oleh sebab itu saat ini turis bukan hanya melakukan penjelajahan namun juga penjajahan. Karena sebenernya kita telah merubah tempat itu dan sedikit banyak tulisan kita berpengaruh pada tempat itu.  "Oleh karena itu sebelum menulis penulis harus dibekali dengan pengetahuan sehingga penulis tidak hanya melabeli," kata Agustinus. 
It's not about the place, it's about the journey

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas