Challenge Yourself Every Single Day

Rabu, 29 Agustus 2012

Journalis on duty (part 2)


 Now everyone can be a journalis

by. google

Setelah cerita job desk saya selama menjadi reporter di part 1, kali ini di part 2 saya pengen cerita how life as a journalis. Sekali lagi cerita ini sangat subyektif  menurut saya, hahhaa 

Menjadi seorang jurnalis maka saya harus menerima konsekuensi  waktu yang banyak sekali tersita untuk liputan dan membuat berita. Apalagi dalam sehari saya ditarget untuk bisa mendapatkan lima berita yang berbeda. Bisa dibayangkan, awalnya saya kira ini standart ternyata saya salah. Untuk media online sekelas beritajatim.com saja targetnya hanya tiga berita, sedangkan media online saya lime berita. Omaigat !

Mendapatkan lima berita dalam sehari bukan perkara mudah. Terutama untuk jurnalis baru macam saya yang baru kenal segelintir teman teman wartawan lain dilapangan. The point is. Saya kudu berbaur, ber-sksd, ber-pdkt dengan teman teman wartawan yang jauh lebih senior di banding saya. Dan saya cukup sulit berada di fase ini. Istilahnya saya anak baru yang kudu masuk ke kelas senior. Kenapa saya sebut kelas senior, karena saya benar benar bertemu dengan wartawan media besar seperti Jawapos, Surya, Kompas, Republika, Trans tv, Detik dan deretan media yang sudah mapan lainnya.

Setiap bertemu dengan wajah wajah mereka rasanya mata mata mereka bilang. “heh, koen lho sopo?” . Ya, merasa tidak dianggap karena anak baru, merasa tidak dianggap karena media saya masih ‘sangat’ baru dan kecil dan semua itu jadi sebuah rasa ‘minder’. Ini yang saya sebut sebagai Orientasi alias Ospek. Apalagi saya memegang tiga pos (life style, pendidikan sama pemerintahan) yang setiap pos nya punya wartawan khusus. Jadi saya kudu adaptasi dan saling mengenal  para wartawan yang berbeda yang ada di tiga pos tadi. Mengapa saya harus kenal mereka satu satu? Karena itu akan sangat sangat membantu mencari info liputan.

Biasanya ada pentolan pentolan wartawan yang punya banyak banget info liputan. FYI, wartawan baru lebih banyak mencari liputan, sedangkan wartawan senior biasanya banyak dapet undangan liputan. Nah saya yang sangat baru ini biasanya ngikut mereka. Ber-sksd sms dan bbm ke mbak mbak mas mas wartawan. “Mas mbak hari ini ada agenda liputan apa ya?”. Jika sms/bbm ku dibalas oleh mereka berarti itu berkah. Berkah karena saya bisa memenuhi satu atau dua dari lima target yang kudu saya setor. Lama lama kalo udah kenal wartawan senior itu jadi enak kerjanya. Gak usah nunggu tanya, biasanya langsung dapat sms/bbm agenda liputan buat besok.

Ya, begitulah. Karena agenda liputan berasal dari satu pintu dan disebar secara luas maka liputan nya gerudukan alias rame rame. Ini sih serunya, hahahaa. Tapi sepemantauan saya selama ini, media besar jarang ikut gerudukan, biasanya mereka punya agenda sendiri. Yang paling banyak ikut gerudukan ya temen temen media online. Jadi nggak heran, di media online banyak banget berita yang sama, walaupun dengan penulisan dan angle yang berbeda. That’s how we do. Apalagi media online yang baru tumbuh banyak banget di surabaya. Dengan nama nama yang mungkin masih asing di telinga kita. Malah kadang pas wawancara narasumber pun muncul pertanyaan pertanyaan yang menohok. “dari media mana mbak?” | “*****.com pak” | “apa itu?” |”@#$%!$” | 

Well, lambat laun mulai ‘banyak’ orang yang kenal  sama mediaku. Alhamdulilah.

That’s why saya bilang diatas “Now everyone can be a journalis”
Ini dalam konteks media online ya. Begitu mudahnya menjadi jurnalis saat ini karena kecanggihan teknologi yang ada. Mau cari berita tinggal sms/bbm ke yang lain, tanya ada agenda apa. Bahkan tak jarang ada juga wartawan yang dengan loyal memberikan naskah beritanya via email ke kita kita. Nahlo, kita dapet enaknya kan, tinggal edit beritanya dan publish dengan kredit name kita, beritapun jadi tanpa harus kita turun lapangan. Enaknyaaaa. Itu sisi negatifnya. Sisi positifnya, seiring menjamurnya smartphone Blackberry, wartawan media online sistem kerjanya udah nggak up to date, tapi up to second.

Kecepatan publish berita buat kalangan media online jadi faktor nomer satu. Jadi udah nggak jaman sekarang wawancara ditulis dikertas (ya walaupun masih ada yang memakai cara ini), sekarang wawancara direkam. Atau yang punya kecepatan ngetik ya langsung diketik di bb nya. Wawancara selesai diketik, tinggal dibikin lead nya dan isi beritanya dan done selesai. Selesai disini berarti naskah berita sudah selesai dikirim ke email redaksi dan siap untuk dipublish ke portal medianya. Jadi kalo kita masih buka buka laptop buat ngetik berita dan kirim email itu sangat tradisional, hahahaa. Jadi proses pembuatan berita bisa selesai bersamaan dengan acara yang kita liput selesai. Wussssss super sekaliii.

Thats why, kalo jurnalis kagak bawa BB rasanya cupu banget. Yang lain beritanya udah muncul di portal eh elu masih harus balik buat ngetik berita di kantor. Sekali lagi, asal kamu punya akses internet yg bisa mobile dan nggak buta huruf, kamu bisa jadi jurnalis. Ini memang untuk kasus kasus tertentu sih, tapi kebanyakan begitu cara kerja mereka.  


Sekian dulu ya cerita saya. Tunggu kisah selanjutnya behind journalis ala aku di part 3
**to be continue**

10 comments :

coratcoret mengatakan...

(y)
next.....

nourash! mengatakan...

journalis citizen kah ,,,,keren beud

Paramadina mengatakan...

@Lukman :
komen nya cuman gitu doang? pelit amat. hahhaa

@nourash :
thanks for comming, your blog was awesome :)

coratcoret mengatakan...

hahaha.. oklah klo gtu mbak
"wiiihhh... terus berkarir mbak"
:D
#udah cukup kan ya.. hehehe... :p

avezahra mengatakan...

*menunggu part selanjutnya*
:)

zahraa mengatakan...

keren2. boleh tau situs onlinenya ga mba? hehe.
yaaah aku ga punya BB tp pengen banget jd jurnalis #melass :'(

Paramadina mengatakan...

@ Lukman :
nah itu panjangan dikit komen nya bagus, hahaha

@ avezahra :
wait ya, part 3 akan segera muncul mut

@ zahraa :
suarakawan(dot)com
emm, gak punya BB pun gak papa dek, asal ada smartphone yg bisa kirim email. kebetulan aja temen2 banyak yg pakek bb, jd jgn di artikan secara sempit. hehehe

km penulis jg?

zahraa mengatakan...

klo dibilang penulis kayanya terlalu berlebihan deh mba. hehe
aku reporter tp baru lingkup pers kampus si. hehe. tp oneday pengen gtu terjun di media2 gede :D. mohon tipsnyaa mbaa :D

Paramadina mengatakan...

@ Zahra :
kamu kuliah dimana? semster brp? tips nya sih jgn berhenti nulis. kalo emang pengen terjun ke wartawan mulai skrng kudu belajar tahan banting. Coba aktif nyari lowongan freelance ke media online. biasanya media online lebih fleksible buat mahasiswa parttime. kalo uda nyoba di real media massa baru dpt sensasinya.

zahraa mengatakan...

di brawijaya mba. ini lg smester 5.
oooh gtu yaa mba. oke deeh. thanks yaa :)

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas