Challenge Yourself Every Single Day

Selasa, 10 Januari 2012

Anak Anak Laskar Pelangi di Surabaya

Siang ini seluruh ruang kelas nampak sepi. Bangku bangku kelas masih berdebu setelah seminggu ditinggal oleh empunya. Beberapa bangku malah masih tak karuan dipojok kelas, tumpukan buku administrasi juga masih berantakan. Namun tangan lincah Bu Dewi dengan telaten membereskan semua itu. Ia sangat bersemangat, karena esok ia akan bertemu dengan murid murid  nya kembali setelah libur yang panjang. 


(dokumentasi penulis)

Perjuangan Gigih Untuk Anak Bangsa Untuk Sekolah

Bu Dewi harus benar benar pintar mengatur ruang kelas yang dihuni oleh 30 murid ini. Maklum, ruang kelas yang ada memang jauh dari ideal. Bu Dewi harus rela membagi rumahnya agar para penerus bangsa ini tetap bisa mengenyam pendidikan. Rumah yang ia sulap menjadi sebuah SD Islam Tarbiyatul Aitam ini memang tidak besar. 

Bahkan jika sepintas dilihat lebih mirip bangunan kuno peninggalan Belanda. Jangankan jendela, pintu saja masih terbuat dari kayu seadanya. Ubin lantai juga masih asli semenjak Bu Dewi ditinggal oleh almarhum sang ibu ditahun 1980-an. Didepan rumah ada sebuah kentongan kayu yang sangat berguna bagi anak anak sebagai bel masuk dan pulang sekolah.
Dulu, sekolah ini sempat mengalami masa kejayaannya di tahun 1985. Walaupun memakai salah satu ruangan didalam masjid yang berada tak jauh dari rumah Bu Dewi, namun jumlah muridnya bisa mencapai 150 orang. Beberapa tahun kemudian sekolah ini mendapatkan banyak pertentangan dari berbagai pihak. Mereka menuntut agar sekolah ini dipindahkan dari masjid dengan alasan masjid akan di renovasi.
Bu Dewi dan sang ibu pun menurut saja, karena memang tidak punya wewenang untuk tetap tinggal di masjid. Namun kenyataanya ketika masjid telah selesai direnovasi, SD Islam Tarbiyatul Aitam tak kunjung dipanggil untuk menempati kembali ruangan yang dulu. Berbagai alasan dilontarkan pihak masjid untuk melarang SD Islam Tarbiyatul Aitam kembali memakai masjid sebagai ruang belajar mereka.
Sejak saat itu, Bu Dewi dan Sang Ibu terus mencari tempat baru untuk anak didik nya agar bisa tetap bersekolah. Tapi sia sia, keterbatasan biaya uang sewa menjadi salah satu penghambat. Karena tidak ada pilihan lain, Bu Dewi dan Sang Ibu merelakan rumah kecil nya yang berada di daerah Genteng Durasim untuk dijadikan kelas sementara.

Salah satu sudut rumah bu Dewi yang disulap jadi ruang kelas
(dokumentasi penulis)

Nyatanya, hingga saat ini SD Islam Tarbiyatul Aitam masih berada di rumah Bu Dewi. Sejak kepergian sang Ibu, Bu Dewi memilih untuk menjadikan rumah peninggalan ibu nya tersebut untuk menjadi sekolah tetap dari SD Islam Tarbiyatul Aitam. Bu Dewi juga harus merelakan sebagian besar murid nya yang pergi dan pindah ke sekolah lain karena sempat meragukan masa depan keberlangsungan SD Islam Tarbiyatul Aitam. 
Menjadikan rumah sebagai ruang kelas bukanlah hal mudah bagi Bu Dewi. Ia di bantu dengan sang suami Pak Agus berusaha keras untuk mendapatkan bantuan fasilitas berupa bangku dan kursi yang tidak terpakai dari beberapa SMP dan SMA Negeri.  Beruntung, usaha keras Bu Dewi dan Pak Agus berbuah manis SD Islam Tarbiyatul Aitam mendapatkan hibah bangku dan kursi yang sudah tak terpakai dari sebuah SMA di Surabaya. Walaupun tak banyak, namun cukup untuk menampung murid murid SD yang rata rata berumur 7-15 tahun ini.
Dalam proses belajar mengajar SD Islam Tarbiyatul Aitam masih menggunakan papan tulis hitam dan kapur yang berdebu. Papan tulis saja sudah mulai usang, belum lagi ruangan yang gelap terkadang menghambat murid murid untuk belajar. Namun keterbatasan itu tidak meyurutkan niat dan semangat belajar mereka.
Di SD Islam Tarbiyatul Aitam ini memang ada kelas satu sampai enam, namun hanya ada tiga ruang kelas yang tak cukup lebar untuk ketiga puluh murid terseut. Ruang kelas pertama yang merupakan halaman teras rumah bu Dewi menjadi ruang kelas 4 dan 5. Sedangkan ruang tengah yang agak lebar menjadi ruang kelas 1 sampai 3. Dan ruang dalam sebelah kamar Bu Dewi dijadikan sebagai ruang kelas 6.
Memang agak memprihatinkan, dalam satu kelas terdapat lebih dari 1 tingkatan kelas yang diajar. Cara belajarnya pun harus bergantian saat menerangkan didalam kelas. Khusus kelas 6 memang sengaja di sendirikan karena harus mengikuti ujian akhir. Walaupun Bu Dewi mengakui sulit nya belajar dengan kondisi sekolah yang ada saat ini, namun Bu Dewi tetap telaten mengajari mereka.
Murid Bu Dewi juga tak jarang telat masuk Sekolah Dasar. “Ada yang sudah umur 15 tapi masih kelas 6 SD,” kata wanita bernama lengkap Dewi Aisyah ini. Walaupun sulit untuk belajar namun beberapa saat yang lalu salah seorang murid SD Islam Tarbiyatul Aitam berhasil memenangkan lomba cerdas cermat melawan sekolah negeri. Ini benar benar tak disangka oleh Bu Dewi karena sang anak terkenal sangat malas saat belajar di kelas.
Perjuangan panjang Bu Dewi dalam mempertahankan kelangsungan hidup SD Islam Tarbiyatul Aitam setidaknya membuat Siti dan kawan kawannya masih bisa tetap sekolah hingga saat ini. Ya, sekolah milik Bu Dewi ini memang tak memungut biaya sepeserpun dari murid muridnya. Maklum sekolah ini memang diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu secara finansial khususnya dilingkungan sekitar rumah Bu Dewi ini.
Sebenarnya alasan utama pendirian sekolah ini adalah keprihatinan pada anak anak yang sejak kecil sudah diajarkan untuk bekerja bersama orang tua mereka sebagai pemulung. Keterbatasan biaya lagi lagi menjadi penghalang bagi mereka untuk mengenyam pendidikan setidaknya ditingkat Sekolah Dasar.  
Namun sejak berdirinya SD Islam Tarbiyatul Aitam, Bu Dewi berusaha meyakinkan orang tua Siti dan teman temannya untuk bisa bersekolah secara gratis di sekolahnya. Banyak rintangan yang dihadapi oleh Bu Dewi dan Pak Agus dalam meyakinkan para orang tua bahwa pendidikan sangat penting bagi anak mereka. 
Tetap serius belajar
(dokumentasi penulis)

Hingga saat ini total ada 7 orang guru yang mengajar di SD Islam Tarbiyatul Aitam. Mereka tentu mengajar dengan niatan tulus karena bayaran yang diberikan juga seikhlasnya saja. Lewat guru guru inilah Bu Dewi ingin membuat anak didiknya pintar dan juga berakhlak mulia di masyarakat. 
“Sebenarnya saya ingin memperbaiki akhlak mereka yang kondisi ekonominya masih rendah, kasihan lingkungannya tidak mendukung, setiap ngomong pasti ada misuh nya,”cerita Bu Dewi tentang anak didiknya selama ini.
Namun diakui juga oleh Bu Dewi bahwa mengajar mereka jauh lebih sulit. Pak Agus bahkan tak jarang memberlakukan sistem yang keras dengan memukul murid nya yang nakal dan sering berkelahi. Demikian halnya dengan Bu Dewi yang tak segan segan memukul mulut muridnya yang berkata kotor. Sistem tegas seperti itu diajarkan oleh sang ayah dan sang ibu semata mata agar sang anak didik menjadi lebih baik.
SD Tarbiyatul Aitam memang bukan SD mewah layaknya SD kebanyakan di kota Surabaya. Fasilitas juga jauh dari memadai, bahkan murid nya pun bisa dihitung dengan jari. SD ini bisa sajaa tutup sejak digusur dari masjid beberapa tahun silam. Tapi wajah anak anak yang haus akan ilmu pengetahuan membuat Bu Dewi tetap menjaga SD ini apapun halangannya.
Karena murid muridnya rata rata adalah anak yang tidak punya, tak heran jika stigma sekolah SD Islam Tarbiyatul Aitam ini adalah sekolah ‘anak pemulung’. Tapi Bu Dewi tak pernah menghiraukan anggapan masyarakat tersebut. “Kalo bukan kita yang perduli dengan pendidikan mereka, siapa lagi,” tandasnya. 

Siti Ingin Terus Sekolah

Siti hanya lah satu dari tiga puluh murid SD Islam Tarbiyatul Aitam yang memiliki semangat tinggi untuk terus belajar. Kini Siti duduk dikelas tiga SD, bersama dengan dua saudaranya yang juga bersekolah di SD Islam Tarbiyatul Aitam ini. Siti tinggal tak jauh dari SD Islam Tarbiyatul Aitam. Sehari hari ia berangkat bersama sang adik dan kakak dengan berjalan kaki.
Pagi ini Siti sibuk membantu ibu nya ke pasar untuk kulak sayur mayur yang akan dijual kemudian. Perjalanan Selami, Ibu Siti, tidaklah dekat, setiap hari Selami harus mendorong gerobak kayu milikinya dari Genteng Kali menuju ke Pasar Keputran. Sehari hari Selami biasa membawa Bagus dan Sumiati, adik Siti yang masih berumur 5 tahun dan 1 tahun itu ke pasar karena dirumah memang tidak ada yang menjaga. “Hari ini Siti libur sekolah, jadi ikut saya,” jelas Selami.
Dari pasar Keputran yang berjarak 4 km dari rumahnya ini Selami, Siti, Bagus dan Sumiati harus berkeliling menjajakan dagangannnya kehampir seluruh Surabaya barat. Selami harus bersabar untuk menghabiskan dagangannya, dalam sehari Selami bisa mendapatkan 40 hingga 50 ribu. Uang tersebut Sulami gunakan untuk membeli kebutuhan dapur untuk ke delapan anaknya.
Siti adalah anak keempat hasil perkawinan Selami dengan Iskan 20 tahun silam. Diantara ke delapan anaknya, Siti termasuk anak yang paling penurut dengan sang Ibu. Sejak ayah Siti masuk panti rehabilitasi kini Siti dan kedelapan saudaranya hidup bersama sang Ibu disebuah rumah kontrakan di daerah Gentengkali. Sejak saat itu kehidupan Siti dan saudaranya bergantung pada ibunya. Hanya sang ibu yang bekerja menghidupi keluarga dari hasil berjualan sayur mayur.
Siti tinggal di daerah Simpang Dukuh yang terkenal kumuh dan sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pemulung dan juga tukang sampah. Maka tak heran bila bau busuk menjadi makanan sehari hari Siti dan tetangga lainnya. Rumah Siti sangat kecil dan harus dihuni sembilan orang, dalam sebulan Selami harus membayar uang sewa sebesar 50 ribu kepada pemerintah.
Selain Siti, di lingkungan sekitar rumahnya ada beberapa anak seumuran Siti yang ternyata tidak bersekolah. Ada beragam alasan yang menyebabkan mereka putus sekolah seperti tidak adanya biaya dan juga orang tua mereka menyuruh untuk bekerja. Oleh karena itu Siti merasa sangat beruntung masih bisa sekolah hingga saat ini.
Kondisi lingkungan disekitar rumah Siti sangat memprihatinkan dan jauh dari layak untuk belajar. Padahal Siti perlu cukup penerangan di malam hari untuk belajar, namun listrik pun masih belum ada. Belum lagi masalah gangguan kesehatan yang kerap menyerang penduduk sekitar akibat lingkungan yang kumuh dan kotor. 
Siti tak pernah tahu apa yang terjadi dengan masa depannya jika Bu Dewi tak mau menampung dia dan kedua adik kakaknya di SD Islam Tarbiyatul Aitam. Ia tak pernah malu dengan teman teman seumurannya walaupun menjadi anak seorang tukang sayur. Menurut bu Dewi, Siti adalah murid yang paling rajin alias tak pernah bolos sama sekali. Walaupun beberapa kali Siti sering bertengkar dengan sang adik didalam kelas.
Selami mengatakan ingin anak anaknya bisa menjadi orang sukses. “Aku aja nggak bisa baca, nggak ngerti tulisan sama sekali,” katanya. Selami begitu bersyukur masih ada sekolah gratis yang bisa meringankan beban nya selama ini.  Karena beban hidupnya yang harus menafkahi kedelapan anaknya dirasa sudah cukup berat bagi Selami.
Belum lagi sang anak sulung yang sebentar lagi akan lulus Sekolah Dasar dan harus masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selami masih tidak bisa memastikan apakah anaknya masih bisa meneruskan sekolahnya apa tidak. 
Sederhana : Siti di depan rumahnya bersama penulis dan teman temannya
(dokumentasi penulis)

Siti sendiri sangat senang bisa bersekolah di SD Islam Tarbiyatul Aitam saat ini. Walaupun sempat takut dengan sistem pengajaran yang diberlakukan oleh Bu Dewi dan Pak Agus namun Siti sadar bahwa itu semua untuk kebaikannya. 

Masih Andalkan Bantuan Donatur

Bu Dewi mengatakan bahwa SD Islam Tarbiyatul Aitam ini masih tetap bisa hidup karena bantuan para donatur yang berbaik hati memberikan sumbangan untuk operasional sekolah. Walaupun SD Islam Tarbiyatul Aitam sering dipandang sebelah  mata oleh beberapa sekolah negeri namun Bu Dewi selalu membesarkan hati murid muridnya ini. Toh, mereka sudah membuktikan bahwa SD Islam Tarbiyatul Aitam tak kalah hebat dengan sekolah negeri.
Pemerintah juga belum memberikan perhatian secara berarti pada SD Islam Tarbiyatul Aitam. Hingga akhirnya beberapa saat yang lalu SD Islam Tarbiyatul Aitam mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa seperangkat komputer sebanyak 6 buah. “Alhamdulilah sekali, akhirnya anak anak bisa belajar komputer,” kata Bu Dewi senang.
Ayah dari Bu Dewi, H. Abdul Hamid,  juga sempat mendapatkan penghargaan dari YDSF (Yayasan Dana Sosial Al-Falah) pada tahun 2009, atas komitmen dan keteladannya dengan keberadaan SD Islam Tarbiyatul Aitam ini. Tentu hal ini disyukuri oleh Bu Dewi dan Pak Agus yang saat ini meneruskan ujung tombak dari SD Islam Tarbiyatul Aitam.
Sesekali ada juga orang tua yang memberikan beberapa uang sebagai ucapan terima kasih kepada Bu Dewi dan Pak Agus, uang tersebut ditabung untuk biaya operasional sekolah. Hingga saat ini Bu Dewi terus memperjuangkan keberlangsungan sekolah rintisan almarhum ibu nya ini. Ia ingin agar sekolah ini bisa mencetak penerus bangsa yang hebat walaupun berasal dari kalangan marginal.
Bu Dewi juga tak pernah memberatkan jika ada anak didiknya yang ingin bersekolah di tempat yang lebih baik. “Biasanya kalo orang tua mereka sudah punya banyak uang akan memindahkan anaknya ke sekolah negeri,” tandas Bu Dewi. Kini Bu Dewi selalu berharap agar anak didiknya bisa berguna bagi bangsa. Selain itu ia ingin agar seluruh murid nya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. (din)







7 comments :

zahraa mengatakan...

itu nggak ada pengajar lain ya selain bu dewi dan suaminya? pengen deh ngajar disitu..hehe.
postingannya bagus. kamu investigasi sendirikah?

Gita Regina mengatakan...

wi,sangar yo D:

Paramadina mengatakan...

@ Zahra
Ada 7 orang pengajar, tapi semuanya juga kondisional. Bahkan mereka welcome sekali kalo ada kita kita yg mau berbagi ilmu di sana. Ditunggu partisipasi nya ya zahra :D

bulannyaorang2beruntung mengatakan...

amazing...

coratcoret mengatakan...

walah
ngrasa malu ya yang males2an kuliahnya
:p

Dyah Oktavia mengatakan...

Ayok kalo mau ngajar disitu :D

Paramadina mengatakan...

kalo emang mau bisa bantu2 ngajar disitu kok, cuman ya koordinasi dulu cari waktu yang tepat smaa bu dewi. Menyenangkan bgt kok :)

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas