Challenge Yourself Every Single Day

Rabu, 28 Desember 2011

Balada Hidup Yuni : Dari Atlit Hingga Pengamen


Sayup sayup lagu Koes Plus terdengar merdu di sepanjang lorong masuk Stasiun Semut. Pagi ini masih menunjukkan pukul 8, namun sibuk lalu lalang orang yang akan naik kereta sudah mulai terasa. Loket penjualan tiket sudah dipenuhi antrian panjang bagi mereka yang ingin segera sampai di tempat tujuan.

Ada juga orang yang masih harus menunggu kedatangan kereta di ruang tunggu Stasiun Semut. Walupun tak besar, namun deretan kursi yang disediakan cukup membuat penumpang kereta nyaman. Terlebih alunan musik yang terus terdengar membuat suasana menunggu kereta tak terasa membosankan.

Dia adalah Yuni Astuti (45). Seorang wanita paruh baya yang tak pernah bosan menghibur penumpang Stasiun Semut. Suaranya yang merdu mungkin sudah akrab terdengar bagi mereka yang sering datang ke Statiun Semut. Dengan diiringi ‘Semut Indah Band’, wanita kelahiran 2 Juni 1966 ini nampak menikmati profesi baru nya kini sebagai pengamen jalanan.

Sudah lama Yuni, sapaan akrabnya, menyanyi dari panggung ke panggung. Bahkan beberapa tahun sebelumnya Yuni juga sempat menjajal dunia night club untuk menunjukkan kebolehan vokalnya. “Tapi itu dulu waktu saya masih muda,” kata Yuni. Diakui Yuni hasil yang ia dapat dari menyanyi jauh berbeda saat di night club dulu bila dibandingkan dengan sekarang.

Dulu dalam semalam menyanyi di Night Club, Yuni bisa mengantongi 100 ribu rupiah namun sejak menjadi pengamen jalanan ia hanya membawa 30 – 40 ribu saja. “Alhamdulilah cukup buat keluarga,” terang ibu dari tiga orang anak ini.

Namun siapa sangka, sebelum Yuni menjadi pengamen jalanan ia adalah seorang Atlet Bulutangkis terkenal. Mungkin dari perawakannya yang kekar berbeda dengan postur wanita pada umumnya. Sisa sisa otot kekar yang terbentuk saat ia menggeluti dunia Bulutangkis masih tersisa hingga saat ini. Sayangnya, kini Yuni terlihat lebih kurus dan ringkih.

 “Sejak kecelakaan yang saya alami tahun 1986, semua hal tentang Bulutangkis sudah saya buang jauh jauh dari kehidupan saya,” kenang istri dari Khoirul Anwar ini. Tragis, Yuni yang sempat tenar pada tahun 1983 – 1986 bersama dengan Sarwendah Kusuwardani harus menelan pil pahit. Seusai pertandingan yang membawa Yuni meraih gelar juara, dalam perjalanan pulang Yuni mengalami kecelakaan sepeda motor. Akibatnya Yuni terperosok ke sungai yang cukup dalam dan mengakibatkan cedera pada kakinya.

“Kata dokter, urat besar di kaki kanan saya putus,” kata Yuni. Bagai tersambar petir di siang bolong, sejak saat itu Yuni tak lagi bisa berlaga di lapangan Bulutangkis. Bahkan hingga saat ini untuk berdiri dalam waktu lama saja Yuni sering mengeluh kesakitan di kaki kanannya. 

Dalam upaya penyembuhan cedera kaki yang dialaminya, Yuni harus pontang panting mencari biaya. “Penghasilan atlet jaman dulu gak sama kayak sekarang yang sering dapat bonus,” tandasnya. Setelah tahu bahwa ia tak mungkin lagi bermain Bulutangkis, Yuni sesegera mungkin menjauh dari kehidupan atlet dan teman temannya. Bahkan rekan sepermainanya tak tahu kondisi Yuni hingga akhirnya mereka bertemu kembali bulan November 2011 lalu. 

Ayah Yuni memang menyadari kelebihan sang anak sejak berhasil menyabet gelar juara II Turnamen Bulutangkis Tunggal Puteri se-Kartosuro. Sang ayah yang merupakan anggota Kopassus pun  memasukkan Yuni ke sekolah Bulutangkis ‘PBA Abadi Solo’ diusia 13 tahun agar bakat Yuni terasah. Alhasil karir Bulutangkis Yuni semakin cerah.  Hal itu dibuktikan satu tahun setelahnya, tepatnya tahun 1982, ia menjadi Juara I Bulutangkis Tunggal Taruna Puteri se-Jawa Tengah.

Sejak saat itu karir Bulutangkis Yuni yang semakin melejit di Jawa Tengah mendapatkan respon baik dari pemerintah.  Beasiswa pun Yuni dapatkan untuk bersekolah di SMA Negeri Ragunan Khusus Olahragawan. “Kebetulan ayah pindah tugas di jakarta, jadi sekeluarga pindah ke Jakarta juga,” papar Yuni.  

Tak heran, Yuni yang bersinar di tahun 80-an ini mengenal baik Susi Susanti yang kebetulan masuk dalam klub yang sama yaitu Klub Jaya Raya. Masuk di SMA Raguna membuat Yuni semakin tersenyum lebar, karir Yuni bersinar terang. Berbagai macam turnamen yang diadakan oleh Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) DKI Jakarta berhasil ia juarai.  

Tahun 1982, Yuni berhasil menyabet Juara III Bulutangkis Ganda Taruna Puteri PBSI DKI Jaya. Tahun 1983 ia juga menjadi juara III tunggal, juara III ganda dan juara III ganda campuran Taruna PBSI DKI Jaya. Di tahun 1984 sosok Yuni semakin melejit pada Juara I ganda dan Juara III ganda campuran Taruna PBSI. Dan puncaknya tahun 1985 Yuni melaju dalam PON XI di DKI Jakarta untuk mewakili DKI Jakarta dan berhasil membawa pulang medali perak.   

Saat itu Yuni  bermimpin untuk bisa berlaga di Internasional membawa nama Indonesia, selain itu Yuni juga akan menjajal dunia Polisi Wanita (Polwan) yang di geluti oleh saudara saudaranya. Namun  tak beberapa kemudian tragedi kecelakaan itu terjadi dan pupus sudah semua impian Yuni. 

Yuni pun lari ke Lampung, kerumah saudaranya, untuk melupakan penderitaan hidup yang ia alami. “Saya langsung salurkan ke nyanyi, karena salah satu hobi saya  memang menyanyi,” kenang Yuni. Saat menginjak usia 22 tahun, Yuni mulai menerima tawaran menyanyi di cafe, panggung dan restoran. 

“Saya sudah apatis dengan Bulutangkis,” jelas Yuni. Benar saja, seluruh piala, penghargaan dan piagam yang ia dapatkan dari hasil jerih payahnya kini hilang entah kemana. Padahal sebelumnya Yuni selalu menata rapi seluruh arsip foto, piagam, piala bahkan medali yang ia dapatkan. 

Ironis memang, pemerintah juga tidak memberikan perhatian khusus untuk Yuni. Di akui Yuni biaya pengobatan untuk operasi yang ia lakukan pada kaki kanannya tidak murah. Namun Yuni berusaha tabah dan memilih untuk terjun di dunia mengamen saat usia nya tak lagi muda.

Kini kehidupan Yuni disibukkan untuk menyanyi di Stasiun Semut tiap hari Senin – Minggu dan Terminal Bungurasih tiap hari Jumat. Ia membantu kehidupan ekonomi sang suami yang menjadi seniman musik juga di Kapal Pelni. “Kaki saya masih sering kumat, gini aja kalo udah kumat jalan harus di seret,” cerita Yuni.

Anehnya ketiga anak Yuni tak pernah tahu bahwa sang ibu adalah seorang atlet terkenal. “Anak saya hanya tahu saya suka Bulutangkis,” tandasnya.

Beberapa bulan yang lalu saat Yuni masuk diliputan On The Spot Trans 7, teman teman Yuni mendatangi Stasiun Semut untuk bertemu Yuni. “Sejak masuk Trans 7 saya jadi bisa ketemu teman teman saya sesama atlet, padahal sejak kecelakaan itu saya sudah lose contact dengan mereka,” ujar Yuni. 

Walaupun sempat merasa malu dengan teman teman Yuni yang kini sudah sukses menjadi pelatih, Yuni mengaku tak bisa berbuat apa apa. “Saya sempet minder juga, tapi ternyata mereka malah perduli dengan saya,” papar wanita yang tinggal di jalan Sulung Utara I/6 Surabaya ini.

Yuni selalu memberikan wejangan kepada ketiga anaknya. “Saya selalu ingatkan kalo mereka adalah anak orang gak punya, hidup jangan macem macem, gak usah neko neko yang penting sekolah yang bener dan mereka gak pernah malu punya ibu pengamen itu semangat saya,” kata Yuni tegas. Yuni selalu berharap agar kelak anak anaknya bisa menyelesaikan studi dan menjadi orang sukses. 

Lalu apa Yuni masih meyimpan harapan untuk bisa terjun kembali di dunia Bulutangkis? Yuni menjawab dengan kalem. “Buat apa, sekarang saya ikuti aliran hidup saya saja, yang saya pikirkan sekarang adalah anak anak saya,” terang Yuni. 

Walaupun banyak berprestasi di bidang Bulutangkis, Yuni juga tak pernah menuntut apa apa dari pihak pemerintah dengan kondisinya saat ini. Ia benar benar ingin keluar dari dunia yang telah membesarkan namanya ini. “Tak tahu sampai kapan, yang jelas sekarang saya ingin menata hidup dulu,” kata Yuni. (din)

2 comments :

avezahra mengatakan...

satu lagi rahasia kebuka lewat tangan tangan senior paramadina, lewat potret potret sudut stasiun...

Paramadina mengatakan...

@avezahra dan satu lagi generasi bangsa luar biasa telah lahir, bersiap menantang congkak nya dunia

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas