Challenge Yourself Every Single Day

Sabtu, 17 Desember 2011

Eka, Sang Jawara


Di usianya yang masih sangat muda mungkin tidak ada yang istimewa dari sosok Eka. Dia memang tumbuh layaknya bocah SMP seumurannya. Namun dibalik tubuhnya yang kecil ada jutaan mimpi yang satu persatu Ia bangun.
Jatuh cinta pada perangko
Semua berawal pada pertengahan tahun 2006, ketika Eka (14) duduk dibangku kelas 5 di salah satu Sekolah Dasar di Sidoarjo. Memang bukan pertama kalinya Eka melihat perangko, tapi entah kenapa saat itu Eka langsung jatuh cinta pada seni yang akrab disebut Filateli ini.
Perangko bergambar burung belibis merupakan perangko yang pertama kali Eka beli. Harganya tak mahal hanya Rp. 800 untuk menebus perangko terbitan tahun 2000 itu. Hingga saat itu hasrat Eka untuk berburu perangko makin bertambah.
Kantor Pos Kebon Rojo menjadi tempat langganan Eka tiap minggu. Bazar perangko yang memang rutin digelar disana membuat Eka bisa bertemu dengan orang orang yang punya hobi sama dengannya. Disana Eka banyak bertukar pikiran mengenai hobi Filatelinya ini dengan mereka yang rata rata berumur 30 tahun keatas.
“Saya yang paling kecil diantara mereka semua,” celetuk Eka. Namun bagi Eka hal tersebut tak membuatnya justru minder melainkan semakin terpacu untuk tak kalah. Tak heran kini Eka mempunyai kurang lebih 350 jumlah perangko yang ia tata rapi di rumahnya. Eka memiliki koleksi perangko terbitan tahun 1945 hingga 2011 yang ia dapatkan dari berbagai daerah.
rangko milik Eka, mulai tahun 1945 - 2011
Beragam pameran perangko dan lomba perangko ia sambangi. Apapun Eka lakukan untuk bisa menambah koleksi perangkonya. “Lha sudah kadung jatuh cinta,” kata Eka.
Apa sih asik nya koleksi perangko? Mungkin sebagian orang bertanya tanya tentang hobi yang satu ini. Terlebih bagi anak anak seusia Eka yang ada di era dengan terpaan teknologi yang sudah sangat maju. Mereka lebih asik bermain dengan playstation atau jalan jalan ke mall.
“Hobi Filateli ini melatih jujur, mandiri, disiplin, dan hemat,” urai remaja kelahiran Surabaya, 19 Maret 1997. Penjelasan Eka sangat sederhana, jujur bagi Eka adalah bagaimana seorang penjual perangko memberikan harga perangko yang sebenarnya kepada pembeli. Kadangkala penjual perangko memberikan harga yang sangat mahal kepada pembeli karena mengaku perangko tersebut sudah tak diproduksi dan langka. 
Tak hanya perangko yang banyak di koleksi Eka, ia juga punya banyak amplop yang sudah jadul alias jaman dulu. “Tiap ada edisi perangko yang baru keluar selalu dibarengi sama keluarnya amplop sampul hari pertama juga,” ungkap Eka. Demikian halnya untuk amplop, Eka rela berburu hingga harus blusukan ke tempat tempat yang asing baginya.
Tak jarang untuk menambah koleksi perangko nya, Eka harus berburu keluar negeri lewat situs belanja online.

Keluarga broken home
Sebagai seorang anak pertama dari tiga bersaudara, remaja pasangan Suradi (45) dan Husnul Khotimah (40) ini memiliki jiwa yang sangat mandiri. Eka tak pernah merepotkan orang orang disekitarnya dan melakukan semuanya sendirian. Di tahun 2010 Eka bahkan pernah tinggal sendirian di sebuah kos kosan di Sidoarjo tanpa kedua orang tuanya.
Kini di usia nya yang menginjak umur 14 tahun Eka harus menelan pil pahit. Kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Ibu Eka adalah seorang penyanyi yang kerap mengisi acara diberbagai tempat sedangkan sang ayah masih belum bekerja saat itu. Akibat pekerjaan ibu Eka tersebut yang membuat rumah tangga mereka tak bisa dipertahankan lagi.
Tentu Eka sangat terpukul dengan kondisi kedua orang tuanya. Di usia nya yang masih belia ia harus kehilangan sosok keluarga ideal dalam hidupnya. “Saya justru senang mereka berpisah, karena kehidupan saya sekarang lebih baik dibanding ketika mereka bersama sama,” kenang Eka.
Memang sebelum orang tua Eka berpisah, kehidupan Eka bisa dikatakan sulit. Kondisi ekonomi keluarga Eka tidak menentu karena hanya sang ibu yang bekerja. Namun kini sang Ayah yang bekerja membuat kehidupan Eka dan adik adiknya jauh lebih baik.
Pada akhirnya Eka memilih untuk ikut bersama dengan sang ayah dan kini tinggal di Surabaya. Akibatnya pada tahun 2010 Eka harus pindah dari Sidoarjo ke Surabaya. Hal tersebut juga berimbas pada sekolah Eka yang sebelumnya berada di SMPN 1 Buduran untuk mutasi ke SMPN 5 Surabaya.
Karena sang Ayah, Suradi, bekerja sebagai penjual alat tulis keliling di Sidoarjo, sehari hari Eka tinggal bersama dengan sang Nenek di Surabaya. “Ayah sering pulang tiga minggu sekali ke Surabaya,” kata Eka. Sementara Saif Syarifudin (10) dan Junita Paramitasari (6) sang adik dirawat oleh keluarga Eka yang berada di Jawa Tengah.
Kini Sumiati (59) sang nenek yang menjaga Eka denga telaten dan sabar di sebuah rumah kecil di kawasan Tembok Lor Surabaya. Dalam setiap cerita Eka, tak pernah luput nama sang nenek disebutkannya. Bisa jadi sang nenek adalah orang paling berpengaruh dalam kehidupannya yang sekarang.
“Nenek selalu mengingatkan saya untuk mengaji, taat agama, belajar dan tidak lupa waktu,” cerita Eka. 

Dulu dibilang fosil, kini primadona sekolah
Memasuki kehidupan sekolah yang baru di SMPN 5 Surabaya menjadi awal yang tidak mudah bagi Eka. Cap sebagai anak baru kadang membuat Eka risih, beruntung Eka cepat beradaptasi dengan lingkungannya sekolahnya yang baru.
Lambat laun hobi Filateli Eka mulai banyak diketahui teman teman sekolah Eka. Bukannya pujian atau sanjungan, malah Eka dicibir dan di olok olok karena hobi Filateli dan Sejarahnya tersebut. “Aku dibilang Fosil, soalnya suka sama sejarah sejarah gini,” urai Eka. Sakit hati memang, namun Eka tak pernah menghiraukan ejekan teman temannya.
Tiga teman Eka adalah yang paling keras mengejek Eka sehari hari. Bisa dibilang mereka adalah biang keladi kekacauan di kelas. Setiap hari Eka selalu menjadi bahan ejekan dan diremehkan bahkan kekerasan fisik pernah Eka dapatkan. Namun Eka lebih banyak diam, karena semakin di ladeni mereka semakin menjadi jadi.
Namun kini semua berubah drastis, siapa di SMPN 5 Surabaya yang tak kenal sosok Eka Arief Setiawan?
Semua berubah tepatnya tanggal 11 November 2010 lalu, dimana Eka berhasil menyabet gelar juara satu dalam lomba menata perangko. Dalam Indonesia Philatelic Exhibition yang diadakan di Golden City Mall Surabaya, Eka datang seorang diri. Tanpa didampingi oleh guru dan tanpa mengenakan seragam.
Penampilan bocah 14 tahun ini begitu berbeda dengan teman temannya saat itu. Eka datang dengan hanya mengenakan kaos, jaket, celana pendek, dan sandal. Hari itu Eka sengaja bolos dari sekolah untuk ikut lomba ini. Dalam Lomba perangko ini peserta diharuskan menata perangko secara rapi dengan memberikan keterangan informasi mengenai perangko tersebut.
“Perangko saya waktu itu tentang Fauna,” kata Eka. Eka juga tak menyangka bisa menjadi juara pertama, karena pada awalnya Eka minder melihat lawan lawannya. Kebetulan saat lomba berlangsung ada seorang wartawan media cetak yang mewawancarai keberhasilan Eka.
Alhasil foto dan profil Eka muncul di halaman pertama rubrik Metropolis Jawa Pos edisi 23 November 2010. Eka tidak menyangka kisah hidup dan hobinya Filateli bisa membuatnya masuk koran. Keesokan harinya kepala sekolah Eka mengetahui artikel profil Eka tersebut dan Eka langsung menjadi bahan obrolan seisi sekolah. 
Sejak saat itu Eka tak pernah lagi diejek oleh teman temannya. Semua guru di SMPN 5 Surabaya kenal siapa Eka bahkan di kelas Eka menjadi primadona. Sempat beberapa waktu yang lalu ketika sekolah Eka memenangkan sekolah Adiwiyata dan diwawancarai di SBO, Eka bahkan diberikan segmen khusus untuk diwawancarai seputar prestasi yang ia dapatkan. 

Surat dari ratu Elizabeth II
Setelah beberapa tahun menggeluti dunia Filateli, kini jaringan pertemanan Eka semakin luas. Salah satu yang ia kenal adalah Wing Wahyu Winarno, senior Filateli, yang pertama kali Eka kenal lewat bukunya yang berjudul Filateli. Eka mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari sosok tersebut.
Termasuk kejutan yang datang beberapa bulan lalu, yaitu surat balasan dari Ratu Elizabeth II. Mendapatkan surat dari luar negeri bagi seorang filatelis merupakan hal wajar dan biasa saja. Namun kali ini datang dari seorang ratu yang mungkin sehari hari hanya bisa kita jumpai dilayar kaca.
Beruntung bagi Eka, surat yang telah lama ia kirim kepada Ratu Elizabeth II pada bulan Juni 2010 mendapatkan balasan dari ajudan Ratu Elizabeth II. “Kebetulan saya tahu Ratu Elizabeth II juga suka filateli,” ungkap bocah yang beberapa waktu lalu meraih juara 3 dalam lomba membaca puisi di RRI Surabaya.
Mendapatkan surat dari luar negeri bukan kali pertama bagi Eka. Sebelumnya banyak kartu pos yang dilayangkan kepada Eka berasal dari Belanda, Inggris, Australia, Malaysia, Aceh dan Lombok. Namun ini merupakan yang paling spesial baginya.
Dalam suratnya Eka menanyakan pendapat Ratu Elizabeth tentang pameran filateli yang diadakan di Bali 28 Oktober 2010 lalu. Eka sangat senang mengetahui surat nya di sambut dengan sangat positif oleh Ratu Elizabeth, walaupun hanya dibalas oleh ajudannya saja.
Sebelum mengirim surat ke Ratu Elizabeth II, Eka banyak bertanya kepada Wing Wahyu Winarno tentang referensi dimana ia bisa mengirim surat dan mendapatkan balasan. Presiden Korea, Prancis dan Inggris jadi pilihan, namun faktor kendala bahasa sempat membatasi langkah Eka. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berkirim surat ke Ratu Elizabeth karena memakai bahasa inggris.
Surat yang Eka tujukan kepada Ratu Elizabeth II bertuliskan tangan. Maklum Eka masih belum mempunyai laptop untuk mengetik selain itu agar lebih irit. “Biaya kirimnya sepuluh  ribu rupiah,”celetuk Eka.   

Terbitkan Majalah dan Dirikan Radio Sendiri
Kemana pun Eka pergi pasti ditemani satu benda kesayangannya yang satu ini. Ya. Sebuah sepeda tua pemberian  nenek Eka yang bermerek Shimano. Walaupun Shimano sudah tua, dan sudah jauh dari layak pakai namun justru sepeda inilah yang membawanya ke berbagai tempat tempat hebat.  
Perjalanan bolak balik Sidoarjo – Surabaya bukan hal baru lagi untuk Eka. Dulu ketika Eka masih tinggal di Sidoarjo ia sering sekali mengayuh sepeda Shimano nya untuk mengunjungi tempat tempat di Surabaya. “Kurang lebih 20 km lah tiap hari,” kata Eka.
Suatu malam dipertengahan 2010 di depan rumah Eka ada seorang loper koran yang berteriak teriak menjajakan korannya. “Ada Pocong di Gedangan, Ada Pocong di Gedangan !!!,” kata si loper koran. Sontak warga sekitar yang sedang cangkru’an didepan rumah penasaran dan membeli koran tersebut. Ternyata berita dikoran menceritakan tentang penampakan pocong yang ada di perbatasan Gedangan dan Buduran.
Eka termasuk salah satu dari mereka yang penasaran, bukan tentang Pocongnya tapi redaksi koran tersebut. “Saya pelototi alamat redaksinya, ternyata di Graha Pena, saya langsung ngontel sepeda ke sana,”cerita bocah berkulit sawo matang ini. Satu jam kemudian Eka sampai di Graha Pena dan langsung menuju kantor redaksi. Ia diterima oleh karyawan wanita dan menyuruh Eka kembali saat sore hari, karena pagi itu para wartawan sedang bertugas di lapangan.
Sore harinya Eka kembali ke Kantor Redaksi Harian Bangsa dan nampak sudah ramai oleh para wartawan. Dengan tidak canggung Eka pun mulai banyak bertanya tentang proses dapur redaksi suatu koran. Disanalah pengalaman pertama Eka mengetahui seluk beluk produksi koran yang makin membuatnya penasaran. Seminggu kemudian Eka kembali dikagetkan berita dari temannya yang mengatakan bahwa Eka masuk koran Harian Bangsa atas kunjungannya minggu lalu.
Hari hari berikutnya Eka mengunjungi lebih banyak lagi kantor redaksi antara lain Nurani, Posmo, Memorandum, Penjebar Semangat, Bhirawa, Mentari, Jawa Pos, Patroli dan Delta Pos. Semua itu sebagian besar di lakukan Eka saat rumahnya masih di Sidoarjo, namun Eka tak pernah patah arang untuk belajar sembari mengayuh sepeda tuanya.
Akhirnya setelah banyak belajar keinginan Eka membuat sebuah majalah terwujud juga dalam format PDF. Majalah perdana bikinan Eka berisi tentang perangko yang ia namai Majalah Philately. Sebagai seorang pemimpin redaksi, majalah yang terbit perdana bulan Oktober 2011 ini Eka tujukan kepada seluruh masyarakat agar lebih mengenal kegiatan Filateli.
Majalah Filateli edisi perdana karya EKa
Penerbitan majalah milik Eka ini disambut baik oleh semua orang. Hingga akhirnya Eka berkesempatan diwawancarai SBO TV dalam salah satu segmen acara tentang majalahnya tersebut. Namun sayang penerbitan edisi selanjutnya sedikit terhambat oleh sang nenek. “Saya bikin majalah sampai malam, kata nenek gak boleh tidur terlalu malam padahal majalahnya sudah banyak yang nunggu untuk terbit,” kata Eka menyayangkan.
Hobi Eka yang lain adalah melukis. Ketika rumah Eka masih di Sidoarjo ia sering main ke Kampung Seni di Pondok Mutiara Sidoarjo. Eka mulai belajar melukis dari seniman Amdo Brada setiap hari minggu pagi. Namun sejak Eka pindah ke Surabaya ia jarang berkunjung kesana dan mulai berkumpul dengan para seniman Komunitas Arek(s) Museum Mpu Tantular.
Kini lukisan dan karya karikatur bikinan Eka yang merupakan wajah Presiden Soeharto, BJ Habibie, SBY hingga tokoh lainnya menghiasi kamarnya. Eka bahkan memiliki situs galeri seni resmi yang menjual hasil karyanya seharga Rp.500.000 berupa lukisan bergambar burung dan batik.
Radio Pop Surabaya juga merupakan beberapa karya bocah cerdas berumur 14 tahun ini. Walaupun belum memiliki segmentasi pendengar secara khusus namun radio streaming hasil rancangannya banyak didengar oleh teman teman sebayanya. Tak jarang teman teman Eka request lagu untuk diputar dan berkirim salam di blog http://radiosurabayapopfm.blogspot.com/. “Dari dulu saya pingin banget menuangkan cerita dan inspirasi, ya lewat radio ini,” terang Eka.
Baru baru ini Eka punya hobi baru yaitu membuat film Animasi. Walaupun masih baru belajar, salah satu film animasinya yang berjudul Merdeka berhasil diputar dalam acara bergengsi AnimNation 2011 dan Festival Seni Surabaya 2011. Alhasil kini Eka banyak menerima order pembuatan Animasi. “Ini saya sedang mengerjakan Animasi untuk tempat ngaji saya di kampung,” jelas bocah yang pernah menjadi penyaji terbaik dalam Lomba Maca Crita Cekak tingkat SMP-SMA di Dinas Kebudayaan & Pariwisata 2011 ini.
Disela sela kesibukannya, Eka juga remaja pecinta sejarah kuno. Eka sangat tertarik pada kehidupan masyarakat jaman dulu. “Rasanya lucu kalo liat TV jaman dulu, masih gede banget, remote nya aja segede batu bata,” pungkas Eka sambari tertawa. Dengan mengendarai sepeda tua nya Eka sering berkeliling Surabaya untuk blusukan menikmati bangunan tua. Dengan berseragam baju jepang berwarna coklat yang ia miliki Eka tak pernah canggung berkumpul dengan berbagai komunitas sejarah di Surabaya.
Saat ditanya mengenai cita cita, ternyata Eka punya banyak impian untuk masa depannya. “Aku pingin jadi arsitek, komikus, seniman, programmer, animator, dan lain2 sesuai dengan hobiku yang sekarang semoga terwujud,” harap Eka. Eka juga ingin membahagiakan kedua orang tuanya kelak ketika ia sudah besar.
Hingga kini Eka selalu berusaha menginspirasi orang lain lewat perangko perangkonya. Beberapa bulan ini Eka sibuk menyiapkan diri untuk mengikuti lomba perangko tingkat nasional di Jakarta. “Kalo ini menang dan dapat juara pertama akan ditandingkan ke tingkat internasional,” harap Eka.
Apa lagi sepak terjang Eka sang jawara? Tunggu saja. 

Sumber Foto : Eka Arief Setyawan

6 comments :

avezahra mengatakan...

aku filateli juga lohh mbak, hehehe

Paramadina mengatakan...

@avezahra
oh yaa, wah bisa sharing tuh sama Eka. you know, He was Great !!

Eka A. Setyawan mengatakan...

Makasih mbak Dina. Panjang bener ternyata ya? heheheheh

coratcoret mengatakan...

wih, sangar
kenalno q mbak din
:p
pengen minta ajari buat komik+animasinya
hehehehe
:)

:::m.ridloi::: mengatakan...

Bisa dibantu kontaknya Eka...? Kebetulan mau wawancara dg dia juga. Salam

Paramadina mengatakan...

Bisa cari FB nya dengan nama lengkap yang ada dibagian bawah tulisan saya

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas