Challenge Yourself Every Single Day

Rabu, 10 Agustus 2011

Digeret ke Puncak (Mahameru Part 2)

Seperti kata Norman Edwin, makin susah makin berkisah. Demikian juga dengan perjalananku ke puncak Mahameru bulan Juli yang lalu. Ada banyak hal yang unik atau bahkan lucu selama tiga hari hidup jauh dari peradaban. Apa saja???

    Dua wanita tegar
Kalo dibilang nekat memang iya. Gimana nggak, diantara ke sembilan cowok yang ikut dalam pendakian ke Semeru hanya aku dan Alin yang berjenis kelamin cewek. Awalnya Riris juga akan ikut, tapi karena ada agenda lain yang tidak bisa ditinggal terpaksa dia tak ikut. Diawal aku dan Alin sempat bimbang, apakan tidak apa apa ceweknya hanya berdua? Ditambah dengan respon dari pihak cowok yang sepertinya meng-cancel saja yang cewek karena hanya berdua. Tapi kataku pada Alin "budal lin !!". Dengan hanya berdua, aku dan Alin saling menjaga satu sama lain. Misalnya saat kami harus 'ke belakang' ataupun saat menghangatkan diri bersama didalam tenda. Kemana mana berdua, kecuali saat masak. Alin lebih banyak berperan sementara aku bagian finishing saja

 Perjalanan Baru, Teman Baru
Memulai sebuah perjalanan tidak harus dengan orang yang kita kenal. Kemarin contohnya, dari sebelas personel pendaki, saya mendapatkan ada empat teman baru. Mereka adalah Mas Okky, Ahong, Faizal dan juga Joss. Jangan dilihat dari tampilan mereka yang sangar, dibalik rambut Ahong yang bikin orang geleng geleng dia adalah sosok yang kocak. Begitu pula dengan Mas Okky yang rupa rupanya sudah sering sekali mendaki seorang diri ke beberapa gunung. Tak sulit menyatukan kami bersebelas. Walaupun baru kenal tapi berjalan, 'tidur' dan makan bersama selama tiga hari empat malam telah mengakrabkan kami. Seperti kata Alin waktu itu, "Kalo sudah hidup di alam, semua orang bakal kelihatan aslinya." *retweet deh lin

Mie Lagi, Mie Lagi
Tak banyak menu masakan yang bisa dimasak di gunung dengan segala keterbatasannya. Alat masak seperti kompor, nesting dan juga gas menjadi barang wajib yang harus dibawa. Selanjutnya, menu makanan bisa disiasati. Kali ini kami membawa sarden, kering tempe, sop-sop an, gubis, kacang panjang, dan yang pasti adalah Mie instan. Mie memang menjadi menu andalan kami. Selain praktis dan instan, mie juga cepat bikin kenyang. Pernah pada hari pertama kami bikin nasi pecel, rasanya jadi nggak karuan pas dicampur sama mie soto. Tapi makan apapun digunung rasanya tetep enak. Buktinya habis tak tersisa.hahaha... Menu paling TOP bagi saya adalah sarden dan sayur sop. Soalnya makan mie terus bikin perut mual dan kebelet. sumpah !!

Kanan Ranjau, Kiri Ranjau 
Kegiatan 'kebelakang' memang menjadi hal paling saya perhatikan selama mendaki gunung. Pertama, karena tidak ada toilet tertutup. Kedua, karena saya cewek. Saya memang tak mau buang hajat di gunung. Jadi sebelum berangkat, sebisa mungkin saya kosongkan perut dirumah. Ini untuk mengantisipasi hal hal yang tidak diinginkan. Bagaimana jika kebelet pipis. Saya sedikit heran selama digunung, dalam sehari saya hanya pipis satu kali saja. padahal kan hawa nya dingin. Tapi ini justru membantu saya biar gak sering sering kebelakang. hehehe.. Semak semak adalah pilihan tepat untuk membuang hajat. Soalnya kalo cewek agak ribet. Setuju??! Tapi sialnya kemarin semak semak di Ranukumbolo banyak yang terbakar, jadi ruang untuk pipis menjadi terbatas. Toleh kanan ada ranjau, toleh kiri ada ranjau. Ini terjadi juga saat saya mau buang air di Kalimati. Saking kebeletnya sampek nggak liat kalo sepatu saja nginjek Ranjau Darat yang masih 'baru'. Hiyaaaaa....Oia, kegiatan membersihkan diri seperti Mandi tidak lagi menjadi hal penting digunung (menurutku). Pokoknya cuci muka dan gosok gigi. Saran saya jangan gosok gigi di malam hari, soalnya air nya lagi dingin dan bikin gigi cenat cenut. Ini seperti yang saya alami kemarin, mungkin kebiasaan dirumah gosok gigi sebelum tidur. Pas pagi nya gigi rasanya gak kuat buat sarapan. Kapok

Bawa Bebanmu Sendiri Sendiri
Carrier bag barang wajib dipakai untuk mendaki gunung. Selain di desain untuk membawa beban berat, memakai carrier bag juga bisa bikin pundak nggak capek. Karena kami berkelompok, maka barang bawaan kelompok seperti tenda dan air minum biasanya dibagi. Selebihnya barang bawaan pribadi harus dibawa sendiri sendiri. Ardi, salah seorang temanku memang punya postur tubuh yang kecil. Tapi carrier bag nya luar biasa berat. Saya sendiri sampek heran bagaimana dia bisa membawa beban segitu beratnya dengan kecepatan berjalan yang luar biasa cepat juga. Ini rasanya sama kayak mengendong 3X berat badanmu sendiri. Saya melihat teman teman membawa carrier bag yang menjulang tinggi diatas tubuh mereka sambil mendaki jalan yang menanjak. Hebat !! saya belum sekuat itu

Ke Puncak = Mendekati Maut
Saya tidak pernah berekspektasi apa apa dalam pendakian ke semeru kali ini. Hanya mengikuti kata hati dan bahasa tubuh. Doa saya kepada tuhan ada tiga, yaitu
Pertama, Ya allah berikalah aku kesehatan selama naik gunung ini.
Kedua, Ya allah berikalah aku keselamatan selama naik gunung ini.
Ketiga, Ya allah berikalah aku kekuatan selama naik gunung ini.
Selama perjalanan dari Ranu Kumbolo ke Kalimati saya masih bernafas lega, karena track yang cukup mudah dilalui. Namun malam hari menjelang keberangkatan kami ke Arcopodo-puncak pada pukul 1 malam membuat saya agak dag dig dug. Yang saya ingat hanya orang tuaku dirumah. Puncak bukan menjadi tujuan akhir saya. Pokoknya saya manut kondisi tubuh dan alam saja. Bisa dibayangkan pukul 1 malam mendaki dengan suhu udara dingin, perut tak terisi dan mendaki track menanjak. Sulit memang. Tapi derap langkah dibelakangku yang menguatkan semangatku malam itu. Cukup banyak cerita yang aku dapat seputar jurang jurang yang ada di Arcopodo ini. Untung malam hari, jadi tak terlihat tapi kami harus extra hati hati dalam melangkah. Karena kondisi jalan yang sudah rusa. Wes, yang bisa dilakukan hanya berdoa pada Allah.

Digeret ke Puncak
Terima kasih Ardi dan Abay. Mereka berdua yang geret aku sampai ke puncak. Jujur, perjalanan ke puncak adalah hal yang paling berat untuk aku. Alin pun sudah menyerah karena kondisi badan yang tdk memungkinkan. Tinggal aku yang ceweknya. Tapi rasa rasanya puncak tak kunjung tercapai. Kabut yang cukup tebal membuat aku berhalusinasi kalo puncak sudah dekat. Padahal setelah didekati masih jauh lagi. Aku sedikit merasa bersalah pada teman teman yang lain karena aku sadar aku yang paling lambat berjalan. Enam temanku sudah berada didepan sementara Aku, Abay dan Bli dibelakang. Kondisi badan ku capek sekali. Ini berbeda rasanya ketika perjalanan mendaki dari Ranupane-Kalimati yang masih bisa aku atasi. Kali ini aku drop, bukan hanya fisik tapi juga mental dan semangat. Sama seperti di Arcopodo, track berpasir ini hampir mencapai kemiringan 80 derajat. Ditambah jurang dikanan kiri dan track yang sering longsor. Hidup mati ada ditangan masing masing bagaimana menjaga diri. Ketika Alin memutuskan untuk berhenti, semangatku terpacu lagi. Aku harus bisa !! Walaupun ditengah jalan aku drop lagi. Lima langkah berhenti lima langkah berhenti lagi. Waaa....... rasa rasanya gak sampek sampek puncak. Sampek akhirnya pukul 09.00 kami mendekati puncak. Aku berjanji untuk menangis sesampainya di puncak. Tapi semuanya terlupakan, ah menyesal


Perjalanan ke Puncak itu seperti mengejar cita cita. Tidak ada jalan yang mudah. Tidak ada jalan yang mulus. Semangat itu pasti ada, tapi ditengah jalan semangat itu juga bisa hilang. Kita tak pernah sukses sendirian, teman teman juga berperan penting dalam mengapai kesuksesan itu. Sesampainya dipuncak, ketika cita cita sudah tercapai kita juga harus turun. Melihat kebawah, berdecak kagum atas semua rintangan yang ternyata bisa kita lalui 

9 comments :

Ocky Fajzar mengatakan...

wedew... seumur-umur belom pernah aku hiking begitu hahaha pingin sih cuma pingin doang hehe

Paramadina mengatakan...

@Ocky - Pingin aja udah bagus. Lebih bagus lagi kalo di coba. Why not??!

sepedarakyat mengatakan...

wahaha,,ternyata nama Bli lbih populer dr pada identitas sebenarnya..hhe
posting yg menarik

bima pena fajar nugraha mengatakan...

aq kan udh sering baca2 tulisanmu i blog ni din..
walaupun gak jd folower tp aq sering ngikutin sejak juli tahun lalu..
tulisanmu semakin bagus din.
kamu emank pantes deh jadi jurnalis paling tidak kamu jd penulis.
kamu udh bs membawa pembaca masuk ke tulisanmu.
terutama tulisanmu yg ini..
siiiip semangat dek, terus nulis ya...
qu doain kelak sukses jadi penulis.
amin

Paramadina mengatakan...

Mas Bima.
Terima kasih sudah mau berkunjung mas. Terima kasih atas saran saran dan doa nya. Amin semoga saya bisa jadi jurnalis. hehehe.. padahal tulisan saya ya begini begini aja, tapi yg penting tetep mau belajar. Bukan begitu?? Siip mas, aku udah baca blog mu. Ayo ndang folow folow-an :)

bima pena fajar nugraha mengatakan...

ya yang penting kan menulis.
menulis itu punya gaya nya masing2 setiap individu.
jadi itu taste mu.
biarkan itu mengalir aja, ntar kan semakin membaik.
n jgn lupa smakin banyak membaca, biar referensi menulisnya smakin byk.

bukan ee' cicak mengatakan...

wahhh
mie instan mang sahabat para pendaki ya mbak
:p
hehehehehehe

Fiqhy dian nashrullah mengatakan...

Pengen ke Mahameru...

Sembari menaklukkan lautan Indonesia, mendaki awan boleh juga tuh. #habisevent

Dulu kalo ke gunung bekalnya mie instan, roti, dan selai.
gag bisa masak, tapi perut harus terisi.
berasa piknik makan roti diatas awan.

Tulisanmu bagus Din.
mengenang masa muda...

Paramadina mengatakan...

@ bukan e'e cicak (eh sumpah nama mu waw banget ya :p )

iya mie emang paling instan disana, tapi memabukkan kalo bnyk2, berasa kurang gizi lama lama.

@fiqhy
thanks for comming.
iya fik, sekali2 kamu harus coba ke gunung. Naik, jangan turun laut terus. hahaha....

kapan2 boleh aku mau bawa semangka atau melon ke gunung. biar lebih bergizi :p

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas