Challenge Yourself Every Single Day

Kamis, 04 Agustus 2011

Langkah Panjang Tanpa Henti (Mahameru Part 1)

Masih lekat diingatanku bekunya kabut Arcopodo dan bau pasir puncak Mahameru

Pasar Tumpang, sewa jeap
Siang itu mobil jeap merah yang kami kendarai mulai memasuki kawasan Ranupane. Belum tepat setahun kami dari sini, tahun ini menjadi tahun kedua pendakian kami. Sama dengan tahun lalu, kami membawa 11 personel dengan komposisi sembilan lelaki kekar dan dua wanita tegar. Namun, kami kembali kesini dengan tujuan yang jauh lebih panjang. Puncak Mahameru

20 Juli 2011
Ranupane merupakan start awal bagi para pendaki yang akan mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Sejumlah administrasi seperti surat ijin pendakian, KTP, karcis masuk dan surat keterangan dokter semuanya diproses disini, setelah sebelumnya diproses di departemen kehutanan taman nasional bromo tengger semeru di kawasan tumpang malang.
lengkapi berkas
Rombonganpun berbenah diri. Sholat (dhuhur-Ashar), makan, ke kamar kecil dan berdoa sebelum memulai perjalanan ke Ranu Kumbolo. Carrier bag hitam sudah nyaman berada dipundakku, dengan sejuta semangat kulangkahkan kaki menuju tanjakan pertama pendakian. Masih ingat betul aku bagian tersulit dalam jam jam awal pendakian. Benar saja, tanjakan yang jauh dari datar menyambut sepanjang perjalanan menuju pos pertama. Tentu saja semangat teman teman yang menguatkanku. Walaupun aku adalah cewek diantara sembilan cowok lainnya, aku berusaha mengimbangi langkah mereka. Langkah yang begitu panjang tanpa henti, hebat.
Istirahat sejenak di pos 1
Mungkin pendakian ke Ranukumbolo terasa lebih ringan dibanding tahun lalu, itu karena aku sudah tahu medan yang akan dilalui. Sepanjang perjalanan pemandangan hutan yang rindang dan bau udara segar menjadi suguhan yang tiada henti. Sesampainya di Ranukumbolo terlihat nyala api unggun pendaki lain. Total perjalanan Ranupane-Ranukumbolo kami tempuh sekitar 6 jam. Tak disangka ternyata Ranukumbolo malam itu ramai sekali oleh para pendaki lain. Baru aku ingat kalau bulan ini memang musim liburan mahasiswa. Tenda pun didirikan, tapi api unggun tidak dinyalakan. Hehehe... sudah terlalu malam untuk mencari kayu bakar. Untuk menghangatkan tubuh dan melepas penat kami membuat kopi panas. Ah nikmatnya...

21 Juli 2011
menjelang pagi di Ranukumbolo
Belum nyenyak benar tidurku malam ini, riang suara teman teman yang lain membangunkanku. Kuintip dibalik jendela tenda terlihat  sunrise yang mengintip dibalik bukit RanuKumbolo. Sleeping bag kulipat pintu jendela kubuka. Ah, malas sekali untuk bangun mengambil air wudhu. Pasti dingin sekali air danau Ranukumbolo ini. Memang benar, suhu di sini seringkali tidak bersahabat namun justru ini yang membuat rindu. 

Setelah menunaikan sholat subuh dengan tubuh mengigil kami pun mulai mempersiapkan sarapan pagi.  Perut harus benar benar terisi karena perjalanan kami masih panjang. Pecel nano nano menjadi menu kami pagi ini. Dengan lahap 11 tangan beradu diatas kertas minyak ini dan Habis. Lanjut dengan beres beres tenda dan mengemas kembali barang di masing masing carrier bag, kami bersiap menuju kalimati. Sebuah langkah awal yang sulit, kenapa? karena harus melewati Tanjakan Tjinta. Bagi orang yang percaya, tanjakan ini punya kekuataan cinta bagi para pendakinya. Tapi saya lebih sibuk memikirkan bagaimana mendaki tanjakan yang melelahkan ini dari pada memikirkan orang yang saya cintai. hehehe...
Sarapan yang mengugah iman *eh selera
cintaku bersemi di tanjakan tjinta
Sekitar pukul 10.00 kami bisa melihat indahnya danau Ranukumbolo dari atas tanjakan tjinta. Dengan nafas yang masih tersengal sengal lantaran melewati alotnya tanjakan tjinta kami pun bergegas menuju balik bukit, Oro oro ombo. Sangat disayangkan hamparan lavender dan juga ilalang yang kami jumpai tahun lalu di Oro Oro Ombo kini hilang tak bersisa akibat kebakaran.
Oro Oro Ombo Gosong ;'(
Namun itu tak mematahkan semangat kami untuk terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju Cemoro Kandang. Kali ini bukan lagi hamparan savana namun hutan kering yang terdiri dari pohon pohon yang menjulang tinggi. Medan yang di tempuh ini bisa saya rasakan sedikit menanjak disana sini, tapi tak begitu lama kemudian kami sudah tiba dimedan yang berbeda lagi. Namanya Jambangan, jalannya cukup enak karena sangat datar. Jambangan seperti hutan tapi agak aneh, karena tumbuhan lebat hanya tumbuh dibagian bagian tertentu saja. Tapi warna warni daun dan bunga Edelweis mulai dapat dijumpai disini
Memasuki kawasan Jambangan (Hutan Ijo)
Senda gurau sepanjang perjalanan membuat kami tak terasa sudah hampir sampai di Kalimati. Kata orang ini merupakan kali yang menjadi daerah aliran larva untuk gunung semeru bila meletus. Tapi kesan 'kali' tidak saya jumpai disana, yang ada malah hamparan luas savana. Total perjalanan hanya 2 jam, dengan demikian kami punya waktu lebih lama untuk beristirahat dan makan siang.
Kalimati (mana kalinya?)
Mempersiapkan makan siang, lapaar
Oia, sebelum memulai perjalanan dari Ranukumbolo ke Kalimati kami membawa banyak botol berisi air yang diambil didanau. Ini karena di Kalimati sumber air sudah sangat jauh dari jangkauan. Jadi kami harus benar benar hemat air untuk perjalanan Kalimati hingga Puncak esok hari.

Tak banyak yang kami lakukan disini. Selain suasana yang lebih mencekam karena hanya segelintir pendaki saja yang singgah disini, kami juga berusaha mempersiapkan fisik yang prima untuk pendakian malam hari nanti. Jam menunjukkan pukul 15.00, setelah perut terisi kami semua tidur dan terbangun untuk sholat magrib-isya. Malam hari udara dingin senantiasa menemani, api unggun yang dibuat cukup hangat untuk dinikmati bersama ditengah sepinya Kalimati. Beberapa jam kemudian kami semua tidur lelap...

22 Juli 2011

Alarm handphone ku berbunyi, menunjukkan pukul 00.00 dini hari. Mata masih kriyep kriyep dipaksa untuk bangun. Pada jam segini kami harus memulai pendakian ke Arcopodo supaya bisa melihat sunrise dipuncak Mahameru. Berbekal lampu senter ditangan dan semangat 45 kami berpamitan kepada pendaki lain yang berada disekitar situ untuk berangkat lebih dahulu. Sulit dipercaya memang, ditengah malam buta dan gelap kami harus menyusuri medan yang penuh jurang dikanan kiri.

Hembusan angin memang sangat dingin. Bercampur dengan keringat mendaki dan perut yang belum terisi, rasanya tak karuan dibadan. Inilah yang saya rasakan diawal perjalanan, namun dengan basuhan minyak kayu putih dan Tolak Angin sedikit teratasi. Tidak demikian dengan teman cewek saya yang satu ini, Alin. Dia tiba tiba pingsan dan tentu saja kami panik bukan main. Rombongan pendaki lain yang lewat mewanti wanti agar Alin terhindar dari Hiportemia. Salah satu penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan kematian. Namun syukurlah kami bersebelas bisa melanjutkan perjalanan dengan ritme langkah yang lebih lambat tentunya.

Tiba di Arcopodo, sedikit lagii puncak
Hanya ini yang menguatkanku
Tak beberapa lama kemudia kami tiba di Arcopodo. Sangat berbeda dari yang aku bayangkan, Arcopodo hanyalah sepetak lahan kecil yang gersang. Tak banyak yang aku pikirkan disana selain bunyi badai angin yang terdengar. Mrinding rasanya. Kami bersebelas bersitirahat sejenak di Arcopodo bersama dengan para pendaki lain yang ternyata baru saja kembali dari puncak karena badai tersebut. Suara badai terdengar seperti gemuruh. Sepengetahuan saya inilah yang disebut sebut sebagai Pasar Setan. Tak masuk akal bukan ada pasar digunung, nah suara gemuruh angin ini terdengar seperti ramainya orang di pasa, begitu ceritanya.

Setelah menunggu kurang lebih 15 menit kami memberanikan diri untuk melanjutkan perjalanan. Suasana masih gelap, tak beberapa lama kemudian kami memasuki area pasir puncak semeru. Artinya perjalanan menuju puncak kurang sedikit lagi. Mendaki ke puncak merupakan bagian tersulit menurutku karena jalan setapak yang dilalui berupa pasir, jurang dan bekas pijakan kaki teman teman didepanku membuat jalur pendakian rusak alias longsor. Kewaspadaan dan hati hati harus benar benar diperhatikan bagi semua pendaki. Karena musuh terbesar adalah Putus Asa dan hembusan angin yang makin kencang.

kaki ku. hehehe....
Kurang lebih pukul 09.00 kami sampai di Puncak Mahameru. Ini bukan waktu yang ideal untuk berada dipuncak memang. karena pendakian ke puncak memang dibatasi sampai jam 10 saja. Selain itu kawah Jongring Seloka yang beracun sudah mulai mengeluarkan wedus gembelnya. Sampai dipuncak kami semua berfoto bersama, menikmati indahnya pulau jawa dari puncak tertinggi. Sungguh indah dan unbelieveble bisa sampai disini. Walaupun akhirnya Alin dan satu teman cowok ku harus berhenti ditengah perjalanan namun kami tetap bangga.
Beginilah cara mendapatkan cita cita. Tak ada jalan mudah yang dilalui. Perjuangan sangat panjang ternyata. Semoga puncak ini menjadi langkah awal puncak puncak selanjutnya. Salam 3676 !!! (din)

0 comments :

About me

Foto Saya
Paramadina
Wanderlust
Lihat profil lengkapku

Follow me

Blog Archive

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Páginas